Kisah Sepotong Roti dengan Amalan Ibadah 70 Tahun dan Dosa 7 Hari

Editor

Yunan Helmy

28 - Dec - 2024, 12:05

Ilustrasi (pixabay)

JATIMTIMES - Di masa Rasulullah SAW, terdapat sebuah kisah menarik yang punya makna begitu besar. Kisah ini  dapat menjadi satu contoh bagi umat Islam untuk terus melakukan kebaikan. Kisah ini berkaitan dengan sepotong roti.

Dalam sebuah buku Uyun Al-Hikayat Min Qashash As-Shalihin wa Nawadir Az-Zahidin karya Imam Ibnul Jauzi, yang diterjemahkan oleh Abdul Hayyi Al-Kattani, kisah ini diceritakan oleh Abu Burdah ketika kematian mendatangi Abu Musa.

Baca Juga : Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi dalam Islam, Ini Penjelasan UAS dan Buya Yahya

Ia berkata, "Wahai anakku, ingatlah kisah tentang seseorang yang hanya memiliki sepotong roti."

Diceritakan, bahwa terdapat seorang lelaki yang begitu tekun dalam beribadah di sebuah tempat ibadah. Bahkan selama kurang lebih 70 tahun, ia tak pernah berhenti sekalipun melewatkan ibadahnya. 

Sesekali ia hanya meninggalkan tempat ibadah hanya untuk satu keperluan tertentu dan hanya untuk hari-hari tertentu yang ia telah tetapkan.

Namun, satu waktu, entah apa yang ada didalam pikirannya, hingga kemudian ia terpengaruh dan tak mampu mengendalikan hawa nafsunya. Ia tergoda oleh seorang wanita, hingga kemudian masuklah ia kedalam lembah dosa. Hal ini terus berlangsung hingga tujuh hari. 

Setelah itu, tiba-tiba ia menyadari apa yang diperbuatnya merupakan perbuatan dosa. Ia bergegas untuk bertaubat. Ia kemudian tak kembali ke tempatnya beribadah sebelumnya. Ia memutuskan meninggalkan tempat tersebut dan mengembara.

Dalam  pengembaraannya, setiap kali melangkah, ia selalu melaksanakan salat dan sujud.
Hingga kemudian satu malam ia bermalam pada sebuah pondok bersama 12 orang fakir miskin. 
Kelelahan membuatnya merebahkan diri di antara mereka.

Hingga kemudian, datang seorang rahib yang biasa membagikan roti kepada 12 orang fakir miskin tersebut. Masing-masing dari mereka diberi satu keping roti. Termasuk pria pengembara itu juga diberikan satu keping roti.

Rahib tersebut mengira dia juga merupakan bagian dari 12 orang fakur miskin. Hingga kemudian Rahib tersebut tersadar bahwa ada satu orang yang belum mendapatkan roti.

Orang tersebut kemudian bertanya kepada rahib. "Mengapa aku tidak mendapatkan bagian rotiku?"

Baca Juga : Meluruskan Sejarah: Syekh Siti Jenar Meninggal secara Wajar, Bukan Dihukum Mati Wali Songo

Dijawab oleh rahib tersebut bahwa rotinya telah habis dibagikan. Ia berkata, "Kamu bisa lihat sendiri, roti yang kubagikan sudah habis dan aku tidak pernah memberi lebih dari satu potong kepada setiap orang."

Lelaki pengembara itu kemudian mendengar percakapan mereka. Ia lantas memberikan roti yang diberikan rahib tadi kepada orang yang belum mendapat bagian roti.

Waktu berjalan hingga keesokan harinya, hal yang mengejutkan terjadi. Lelaki pengembara tersebut  meninggal dunia 

Dan di akhirat tentunya lelaki tersebut harus mempertanggungjawabkan segala amal dan perbuatannya. Amal ibadah lelaki pengembara itu selama 70 tahun ternyata jauh lebih sedikit dibandingkan dosa yang ia perbuat selama tujuh hari. Dosa yang diperbuatnya selama tujuh hari begitu besar dan melebihi besarnya pahala ibadah 70 tahunnya. 

Tetapi, ketika dosa tujuh hari tersebut disandingkan dengan amalan kecil yang diperbuat oleh lelaki pengembara itu sebelum meninggal, kebaikan itu jauh lebih besar. Kebaikan atau amalan yang dimaksud adalah ketika lelaki pengembara itu memberikan rotinya kepada seorang fakir miskin yang belum mendapat roti.

Kisah sepotong roti ini tentunya menjadi satu inspirasi dan contoh kepada umat untuk terus melakukan kebaikan meskipun hal itu tergolong kecil. Sebab, setiap amalan baik yang dilakukan dengan ikhlas tentunya akan mendapatkan ganjaran yang besar dalam kehidupan dan mendekatkan kita kepada keridaan Allah.

Rasulullah melalui sebuah sabda mengajarkan umatnya untuk selalu membantu sesama yang mengalami kesusahan. Hadis riwayat Bukhari dna Muslim, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya."