Bediding Terjadi Sampai Kapan? Ini Penjelasan BMKG, Penyebab, dan Dampaknya
Reporter
Mutmainah J
Editor
Dede Nana
02 - Jul - 2026, 07:23
JATIMTIMES - Musim kemarau identik dengan cuaca terik pada siang hari. Namun, kondisi berbeda justru dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa, ketika malam hingga pagi hari. Udara terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Fenomena ini dikenal dengan istilah bediding.
Belakangan, bediding kembali dirasakan di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Meski suhu udara menurun cukup signifikan, kondisi tersebut bukanlah cuaca ekstrem. BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur menjelaskan bahwa bediding merupakan fenomena alam yang normal dan hampir selalu terjadi setiap musim kemarau.
Baca Juga : 698 Kejadian Gempa Bumi di Jatim Didominasi Gempa Dangkal
Banyak masyarakat bertanya, bediding terjadi sampai kapan? Berdasarkan penjelasan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, fenomena udara dingin ini umumnya berlangsung sepanjang musim kemarau, yakni mulai Juni hingga September.
Sementara itu, puncak suhu terendah biasanya terjadi pada Agustus, meski di sejumlah wilayah dataran tinggi udara dingin dapat bertahan hingga September. Namun sebelum membahas lebih jauh soal bediding, alangkah baiknya untuk tahu terlebih dahulu apa yang dimaksud bediding.
Apa Itu Bediding?
Berdasarkan penjelasan BMKG, bediding adalah kondisi ketika suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dibandingkan kondisi normal saat musim kemarau, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.
Istilah bediding berasal dari bahasa Jawa yang berarti udara dingin atau menusuk. Dalam kehidupan sehari-hari, istilah ini digunakan masyarakat untuk menggambarkan hawa dingin yang biasanya muncul saat musim kemarau berlangsung.
Menurut BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, fenomena ini merupakan bagian dari siklus iklim tahunan sehingga tidak perlu dianggap sebagai kejadian cuaca ekstrem.
Catatan BMKG menunjukkan suhu terendah di Jawa Timur dalam sekitar 30 tahun terakhir mencapai 11,4 derajat Celsius yang terjadi pada Agustus 1994. Data tersebut membuktikan bahwa penurunan suhu saat musim kemarau memang telah lama terjadi dan berulang setiap tahun.
Penyebab Fenomena Bediding
Bediding terjadi karena beberapa faktor atmosfer yang saling berkaitan selama musim kemarau. Pada periode ini, langit umumnya cerah dengan tutupan awan yang sangat sedikit. Kondisi tersebut membuat panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer saat malam melalui proses radiative cooling atau pendinginan akibat radiasi. Akibatnya, suhu udara turun lebih rendah dibandingkan hari-hari biasa.
Selain itu, fenomena ini diperkuat oleh angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan relatif dingin menuju Indonesia. Rendahnya kandungan uap air di atmosfer membuat udara lebih mudah kehilangan panas sehingga malam hingga dini hari terasa semakin dingin.
Bediding Terjadi Sampai Kapan?
Menurut BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, bediding umumnya berlangsung selama musim kemarau, yaitu Juni hingga September. Artinya, masyarakat di Jawa Timur maupun wilayah lain yang terdampak masih berpotensi merasakan udara dingin pada malam dan pagi hari hingga memasuki September.
Meski berlangsung selama beberapa bulan, puncak bediding biasanya terjadi pada Agustus, ketika suhu udara mencapai titik terendah. Di kawasan pegunungan atau dataran tinggi, udara dingin bahkan dapat bertahan lebih lama, bergantung pada perkembangan musim kemarau.
Fenomena ini umumnya dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia bagian selatan, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagian Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di daerah pegunungan, suhu dapat turun lebih rendah lagi. Dalam kondisi tertentu bahkan dapat memunculkan embun es (frost), seperti yang beberapa kali terjadi di kawasan Bromo maupun Dieng.
Ciri-ciri Bediding
Fenomena bediding memiliki sejumlah karakteristik yang mudah dikenali, di antaranya:
• Suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dari biasanya.
• Kelembapan udara relatif rendah.
• Langit cerah atau hanya sedikit berawan.
• Curah hujan sangat rendah karena sedang memasuki musim kemarau.
Perbedaan suhu antara siang dan malam cukup besar, yakni siang terasa panas, sedangkan malam hingga pagi terasa dingin.
Baca Juga : Tinggal Sendirian, Lansia di Desa Bolorejo Tulungagung Ditemukan Tewas di Rumah
Dampak Bediding
Walaupun bukan cuaca ekstrem, bediding tetap dapat memberikan dampak pada berbagai sektor apabila berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
1. Kesehatan
Suhu udara yang lebih dingin dapat mengganggu kenyamanan tubuh, terutama bagi bayi, lansia, dan penderita penyakit saluran pernapasan. Kondisi ini juga berpotensi memperparah asma maupun infeksi saluran pernapasan pada sebagian orang.
2. Pertanian
BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyebutkan suhu yang sangat rendah di dataran tinggi berpotensi memunculkan embun es (frost). Kondisi tersebut dapat merusak tanaman yang sensitif terhadap suhu dingin, seperti sayuran, bunga, dan berbagai komoditas hortikultura.
3. Peternakan
Bediding juga dapat menyebabkan stres pada hewan ternak. Jika berlangsung cukup lama tanpa penanganan yang baik, risiko penyakit hingga kematian ternak dapat meningkat.
Tips Menghadapi Bediding
Agar tetap nyaman beraktivitas selama fenomena bediding berlangsung, BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur mengimbau masyarakat melakukan beberapa langkah berikut:
• Mengenakan pakaian yang lebih hangat, terutama saat malam dan pagi hari.
• Menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, minum air yang cukup, dan beristirahat.
• Melindungi tanaman yang rentan terhadap suhu dingin menggunakan naungan atau plastik mulsa, khususnya di daerah yang berpotensi mengalami embun es.
• Memastikan kandang ternak tertutup dengan baik agar suhu di dalamnya tetap hangat.
• Rutin memantau informasi cuaca dan iklim terbaru dari BMKG selama musim kemarau berlangsung.
Meski udara terasa lebih dingin dari biasanya, masyarakat tidak perlu panik karena bediding merupakan fenomena alam yang normal saat musim kemarau. Namun, BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan, mengantisipasi dampak terhadap tanaman maupun ternak, serta rutin memantau informasi cuaca resmi agar dapat beraktivitas dengan aman selama fenomena ini masih berlangsung.
