Minim Pendaftar, Wacana Merger Delapan SD di Kota Batu Menguat
Reporter
Prasetyo Lanang
Editor
Dede Nana
17 - Jul - 2026, 03:18
JATIMTIMES – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 di Kota Batu menyisakan tantangan tersendiri dalam pemerataan kuota pendidikan dasar. Di saat sejumlah lembaga pendidikan dipadati pendaftar, Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Batu justru mencatat adanya delapan Sekolah Dasar (SD) yang sepi peminat dan kekurangan kuota siswa secara signifikan.
Kondisi saringan masuk di delapan sekolah tersebut dilaporkan hanya mampu menjaring jumlah peserta didik baru pada angka 10 anak atau bahkan di bawahnya. Meski demikian, otoritas pendidikan setempat menegaskan bahwa fluktuasi data ini masih bersifat dinamis dan berpotensi mengalami pergerakan kuantitas dalam beberapa waktu ke depan.
Baca Juga : MIN 1 Kota Malang Jadikan Matamuda Instrumen Awal Menanamkan Karakter, Bukan Sekadar Masa Orientasi
Plt Kabid Pembinaan SD Dindik Kota Batu, Dina, membenarkan adanya laporan mengenai minimnya keterisian pagu bangku sekolah di delapan lembaga pendidikan dasar tersebut. Pihaknya memproyeksikan adanya potensi penambahan kuota melalui jalur mutasi susulan pada periode bulan depan.
"Ada delapan sekolah yang saat ini jumlah murid barunya kurang dari 10 atau tepat 10 siswa. Saya menyebutnya 'saat ini' karena biasanya masih ada tambahan siswa baru melalui perpindahan atau mutasi pada Agustus nanti," terang Dina.
Dina membeberkan bahwa fenomena minimnya pendaftar ini dipengaruhi oleh letak geografis antarlembaga yang saling berdekatan dalam satu zona kelurahan, sementara basis populasi anak usia matang sekolah di kawasan sekitar tergolong minim. Di sisi lain, tren penurunan demografi anak usia 6 hingga 12 tahun di klaster wilayah tertentu turut memperketat persaingan perolehan siswa antara SD negeri dan swasta.
Menyikapi polemik kekurangan murid yang terus berulang ini, Dindik Kota Batu mulai membuka kembali ruang wacana mengenai kebijakan penggabungan lembaga atau regrouping. Kendati demikian, langkah pemetaan aset dan administrasi akan dilakukan secara hati-hati agar tidak mengganggu stabilitas sistem pengajaran yang ada.
"Masih dalam kajian dan evaluasi. Ada hal-hal sensitif yang perlu dipertimbangkan, mulai penataan guru dan kepala sekolah, pemindahan data di Dapodik, sampai penggabungan aset dan inventaris sekolah," tegasnya.
Salah satu potret nyata dari sepinya peminat ini dialami oleh SDN Gunungsari 4 Kota Batu, yang merupakan sekolah dengan sistem Satu Atap (Satap). Sekolah dasar yang berlokasi di area berdekatan dengan jenjang SMP tersebut pada periode ajaran baru kali ini tercatat hanya berhasil mendapatkan sebanyak delapan siswa baru saja.
Kepala SDN Gunungsari 4, Hendi, mengungkapkan bahwa keterbatasan jumlah murid baru ini sejatinya merupakan persoalan klasik yang sudah dihadapi pihak sekolah selama bertahun-tahun. Keterbatasan luasan wilayah serapan menjadi alasan utama mengapa ruang kelas di sekolah tersebut jarang terisi penuh.
"Stabil. Tahun ajaran baru 2026 ini kami mendapat delapan siswa karena hampir setiap tahun jumlahnya seperti itu. Setahu saya kondisi ini sudah lama terjadi. Ada kelas yang hanya berisi empat siswa dan paling banyak sembilan siswa," ungkap Hendi.
Faktor keterpencilan lokasi disinyalir kuat menjadi penyebab utama minimnya pasokan anak didik baru, mengingat area pemukiman di sekitar sekolah hanya mencakup satu lingkungan RW dengan empat RT saja. Kondisi tersebut berimbas pada akumulasi total keseluruhan murid dari kelas satu hingga kelas enam di SDN Gunungsari 4 yang kini hanya menyisakan sebanyak 41 anak.
Meskipun harus beroperasi dengan jumlah rombongan belajar yang sangat terbatas, manajemen sekolah berkomitmen untuk tidak menurunkan standardisasi proses belajar mengajar di kelas. Pihak sekolah justru memanfaatkan rasio murid yang sedikit ini sebagai momentum untuk menerapkan pola pendampingan akademik secara lebih intensif, privat, dan personal guna mencetak output prestasi siswa yang maksimal.
