5 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang Egois Menurut Psikolog, Kenali Cirinya

Reporter

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy

25 - Aug - 2026, 06:06

Ilustrasi egois. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Sikap mementingkan diri sendiri sebenarnya tidak selalu buruk. Dalam situasi tertentu, seseorang memang perlu memprioritaskan kebutuhan dan kepentingannya. Namun, jika dilakukan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan perasaan maupun kepentingan orang lain, sifat tersebut dapat menjadi masalah.

Orang yang terlalu egois biasanya lebih sulit menerima kritik, kurang terbuka terhadap sudut pandang berbeda, dan cenderung merasa dirinya paling benar. Kondisi ini bukan hanya dapat mengganggu hubungan pribadi, tetapi juga berpotensi menciptakan persoalan di lingkungan kerja.

Baca Juga : ODGJ Amuk dan Rusak Kos-Kosan, Selesai dengan Damai

Psikolog asal Amerika Serikat Stefan Falk selama lebih dari 30 tahun telah menangani persoalan terkait perilaku karyawan di lingkungan perusahaan. Ia mengatakan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi adalah menghadapi orang-orang yang terlalu egois hingga perilakunya berdampak buruk terhadap rekan kerja.

"Saya telah menghabiskan lebih dari 30 tahun membantu perusahaan menavigasi karyawan yang terlalu egois, terutama mereka yang perilakunya dapat merugikan rekan satu tim mereka," kata Falk dalam wawancara dengan CNBC, dikutip Selasa (25/8/2026).

Dari pengalamannya tersebut, Falk mengidentifikasi sejumlah pola ucapan yang kerap muncul dari orang dengan sifat egois berlebihan.

Berikut beberapa kalimat yang bisa menjadi tanda seseorang memiliki kecenderungan terlalu egois.

1. "Kamu tidak sopan karena tidak setuju denganku"

Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam sebuah hubungan maupun lingkungan kerja. Orang yang terbuka biasanya dapat melihat perbedaan sudut pandang sebagai kesempatan untuk memahami pemikiran orang lain.

Namun, menurut Falk, orang yang terlalu egois justru bisa menganggap ketidaksetujuan sebagai bentuk penghinaan terhadap dirinya.

Mereka cenderung membutuhkan pengakuan dan ingin pendapatnya diterima oleh orang lain. Ketika hal tersebut tidak didapatkan, perbedaan pendapat dapat dianggap sebagai bentuk ketidaksopanan.

Falk menjelaskan bahwa orang yang merasa dirinya berhak mendapatkan pengakuan biasanya lebih sedikit memiliki keinginan untuk belajar dari pengalaman atau pandangan orang lain.

2. "Ide saya berharga dan selalu layak dipertimbangkan"

Kalimat semacam ini menunjukkan keyakinan yang terlalu tinggi terhadap gagasan sendiri.

Falk menilai, orang yang egois sering kali merasa dirinya memberikan nilai besar bagi orang lain. Sebaliknya, mereka dapat memandang ide atau masukan dari orang lain sebagai sesuatu yang kurang penting.

Padahal, tidak semua gagasan seseorang selalu tepat. Setiap pendapat tetap perlu dipertimbangkan berdasarkan situasi dan masukan dari orang lain.

Karena itu, keyakinan bahwa ide sendiri selalu lebih baik dapat menjadi salah satu tanda seseorang sulit menerima kritik atau evaluasi.

3. "Mengapa kamu selalu mencoba mengontrolku?"

Orang yang terlalu egois juga dapat mengalami kesulitan ketika harus mengikuti arahan.

Dalam lingkungan profesional, misalnya, arahan dari atasan seharusnya menjadi bagian dari proses kerja. Namun, seseorang dengan kecenderungan egois dapat melihat arahan tersebut sebagai bentuk campur tangan atau usaha untuk mengendalikan dirinya.

Baca Juga : Menjaga NU: Antara Khidmah, Kekuasaan, dan Amanah Umat

Falk mengatakan, orang-orang seperti ini terkadang menganggap instruksi dari atasan hanya sebagai saran yang boleh diterima atau diabaikan sesuka hati.

4. "Saya tahu apa yang terbaik"

Keyakinan bahwa dirinya selalu mengetahui pilihan terbaik juga dapat menjadi tanda perilaku egois.

Seseorang memang boleh memiliki pendirian kuat. Tetapi, persoalan muncul ketika keyakinan tersebut membuatnya menutup diri terhadap masukan dan menganggap pendapat orang lain tidak diperlukan.

Dalam hubungan maupun pekerjaan, kemampuan mendengarkan menjadi hal penting. Terlalu sering memaksakan keputusan sendiri justru dapat membuat orang di sekitar merasa tidak dihargai.

5. "Kalau bukan karena saya, semuanya tidak akan berjalan"

Orang yang terlalu egois juga cenderung menganggap keberhasilan sebagai hasil dari kontribusi dirinya sendiri.

Padahal, banyak pekerjaan atau pencapaian yang sebenarnya melibatkan kerja sama sejumlah orang. Ketika seseorang terus-menerus mengambil seluruh penghargaan untuk dirinya, hubungan dengan rekan kerja dapat menjadi tidak sehat.

Sikap tersebut juga bisa membuat orang lain merasa kontribusinya diabaikan.

Cara Menghadapi Orang yang Terlalu Egois

Berhadapan dengan orang yang memiliki sifat egois berlebihan memang tidak selalu mudah. Terlebih jika perilakunya mulai mengganggu hubungan atau pekerjaan.

Falk menyarankan agar seseorang tidak selalu menghindari konflik. Dalam kondisi tertentu, pendapat orang yang terlalu egois perlu dihadapi dengan tenang dan tegas.

Menetapkan batasan juga penting. Jika perilaku seseorang sudah memberikan dampak negatif, sampaikan hal tersebut secara jelas tanpa harus menggunakan emosi.

Menurut Falk, seseorang dapat mengingatkan bahwa terlalu fokus pada kebutuhan sendiri bisa membuat sudut pandang menjadi sempit. Hal itu pada akhirnya dapat memengaruhi pekerjaan, interaksi dengan orang lain, hingga kesempatan untuk belajar.

Dengan demikian, menghadapi orang egois bukan berarti harus membalas sikap mereka dengan perilaku yang sama. Tetap tenang, memberikan batasan yang jelas, serta berani menyampaikan pendapat dapat menjadi langkah yang lebih sehat.