Dies Natalis FK UB ke 52 dan Kunci Perubahan: Alumni Bicara Peran
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Dede Nana
11 - Jan - 2026, 01:37
JATIMTIMES - Wajah-wajah penuh antusiasme memenuhi area Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) pada Minggu pagi, 11 Januari 2026. Di balik riuhnya perayaan hari jadi ke-52, tersimpan narasi besar tentang pengabdian setengah abad yang kini mulai bergeser ke arah kolaborasi lintas generasi. Bukan sekadar seremoni angka, Dies Natalis kali ini menjadi panggung pembuktian bagaimana para lulusannya yang kini duduk di kursi pengambil kebijakan, kembali "pulang" untuk membentangkan jalan bagi adik-adik tingkat mereka.
Mengusung tema besar "Dari FKUB untuk Indonesia: Mendidik Tenaga Kesehatan Inovatif Menuju Indonesia Sehat", perayaan ini menjadi titik balik bagi kampus untuk bertransformasi. Di tengah kompleksitas tantangan medis global, FKUB menyadari bahwa kecerdasan akademik mahasiswa harus dibarengi dengan jejaring yang kuat serta kepekaan sosial yang tajam.

Dekan FKUB, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med, Sp.A(K), menegaskan bahwa keterlibatan alumni adalah nyawa dari pengembangan institusi saat ini. Dalam pandangannya, alumni bukan sekadar lulusan yang telah pergi, melainkan mitra strategis yang membawa perspektif kebijakan dan praktik lapangan ke dalam kurikulum pendidikan.
Baca Juga : Membangun Negara dengan Bata: Senapati Kediri dan Pertahanan Awal Mataram
“Temanya adalah FK UB untuk Indonesia. Jadi kita berharap bahwa ke depan FK UB ini bisa lebih banyak berkontribusi untuk pendidikan dan juga untuk kesehatan. Dan pada acara sekarang ini kita banyak melibatkan alumni. Jadi bagaimana kita menggalang alumni sehingga nanti kita bisa berkolaborasi untuk kebajikan Indonesia,” tutur Prof.
Barli,
Ia juga menambahkan kehadiran tokoh-tokoh alumni seperti Dr. dr. H. Maulana (Wali Kota Jambi) memberikan masukan konkret bagi peta jalan pengembangan FKUB ke depan. Salah satu representasi nyata dari peran alumni tersebut hadir melalui sosok dr. Gamal Albinsaid, M.Biomed. Sebagai anggota Komisi IX DPR RI, ia memandang almamaternya bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan akar yang membentuk integritasnya sebagai pejabat publik.
Menurutnya, ada beban moral positif yang harus ia pikul untuk memajukan kampus yang telah membesarkannya. “Apa yang kami raih hari ini itu adalah hasil dari kompetensi dan karakter yang dibangun di fakultas ini. Dan tentu kami punya tanggung jawab moral untuk bagaimana ikut mengembangkan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya,” ungkap dr. Gamal
Lebih lanjut, dr. Gamal menjelaskan bahwa dukungan alumni tidak boleh berhenti pada tataran diskusi, melainkan harus menyentuh aspek kesejahteraan mahasiswa. Ia secara aktif menjadi jembatan antara kebutuhan kampus dengan kebijakan di pusat, terutama melalui mitra kerjanya di Kementerian Pendidikan, Dikti Saintek, hingga Kementerian Kesehatan.
“Satu, saya selalu memprioritaskan sekiranya ada aspirasi yang disampaikan oleh civitas akademika Universitas Brawijaya. Baik dari Dekan, Wakil Dekan, bahkan dari FK ataupun VIKES. Itu kerap menyampaikan aspirasi kepada kami untuk dikawal di tingkat pusat,” jelasnya.

Dampaknya pun nyata; melalui program aspirasi, ia berhasil mengupayakan beasiswa kuliah gratis hingga lulus bagi ratusan mahasiswa. “Alhamdulillah tahun ini relatif lebih dari 500 mahasiswa itu Alhamdulillah bisa kuliah secara gratis melalui beasiswa yang kami adakan total 700 anak-anak. Itu beasiswa kuliah sampai lulus secara gratis lalu mendapatkan uang saku setiap bulan,” imbuhnya lagi.
Baca Juga : Dari Bojonegoro ke Malang: 112 Siswa MAN 3 Menyemai Mimpi di Kampus Ulul Albab
Program dukungan ini pun tidak terbatas pada bantuan finansial. dr. Gamal membuka lebar pintu magang bagi para alumni muda agar mereka bisa belajar langsung mengenai tata kelola kebijakan kesehatan dan pengembangan karya. Ini adalah bentuk nyata dari transfer pengetahuan antar-generasi yang ingin dibangun FKUB.
Di sisi lain, nuansa humanis tetap menjadi roh dari Dies Natalis ini. Kampus menunjukkan kepeduliannya melalui aksi nyata pengabdian masyarakat di desa-desa binaan Kabupaten Malang. Menariknya, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa dari luar negeri, yang memberikan dimensi kolaborasi internasional sejak di bangku kuliah.
Selain itu, kegiatan sosial seperti donor darah dan kolaborasi dengan Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) mempertegas posisi FKUB sebagai kampus yang memiliki dampak langsung (impactful) bagi masyarakat sekitar.
Hadirnya jajaran alumni hebat lainnya, seperti Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp. JP (K), Ph.D., semakin melengkapi optimisme bahwa FKUB sedang berada di jalur yang tepat. Peringatan ke-52 ini pada akhirnya menjadi sebuah janji setia: bahwa FKUB akan terus melahirkan tenaga kesehatan yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan klinis, tetapi juga memiliki integritas tinggi untuk mengabdi pada kemanusiaan demi sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh.
