Resep Warisan Sejak Zaman Belanda, Gado-Gado DLLAJR di Banyuwangi Bisa Jadi Tujuan Wisata Kuliner | Pacitan TIMES

Resep Warisan Sejak Zaman Belanda, Gado-Gado DLLAJR di Banyuwangi Bisa Jadi Tujuan Wisata Kuliner

Dec 03, 2020 11:30
Gado-gado DLLAJR, salah satu kuliner Banyuwangi di depan Kantor PC NU Banyuwangi. (Foto: Nurhadi/Banyuwangi Times)
Gado-gado DLLAJR, salah satu kuliner Banyuwangi di depan Kantor PC NU Banyuwangi. (Foto: Nurhadi/Banyuwangi Times)

Banyuwangi dikenal sebagai serpihan tanah surga di ujung timur Pulau Jawa. Tak hanya keindahan alam, kulinernya juga memanjakan selera makan para wisatawan.

Aneka macam makanan dan minuman khas masyarakat Osing bisa jadi pilihan. Mulai Rujak Soto, Nasi Tempong, Ayam Kesrut, Pecel Pitik, aneka macam minuman dan kopi, hingga jajanan tradisional seperti kucur, sumping, jenang bedhil dan lain sebagainya.

Baca Juga : Viral di Korea, Yuk Cobain Resep "Goguma Latte" Susu Ubi yang Enak dan Menyehatkan

Meski demikian, ada juga salah satu kuliner bagi pecinta sayur yang tak boleh dilewatkan. Saat berkunjung ke kota gandrung, coba sisihkan waktu menikmati gado-gado Pak Haji Mat Rais.

Bagi para pelanggan dan masyarakat sekitar, warung ini kerap disebut gado-gado Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya (DLLAJR). Lokasinya di Jalan A. Yani tepatnya di depan Kantor PC Nahdatul Ulama (NU) Kabupaten Banyuwangi. Istimewanya, warung ini menyajikan gado-gado dengan resep yang bertahan sejak era Belanda.

Menurut perintis warung Gado-gado DLLAJR, H. Mat Rais mengawali kisah suksesnya berjualan gado-gado sejak 1967 silam. Sebelum menempati lokasi saat ini, dia suda pindah beberapa kali.

Pertama, dia jualan gado-gado di Kali Stail Genteng selama dua tahun menggunakan pikulan. Lalu sempat jualan di Jajag, Rogojampi, bahkan sempat ke Pulau Bali sebelum menetap di kota Banyuwangi.

"Kunci utama suksesnya adalah melaksanakan petuah guru spiritual saya. Kerjo mempeng tirakat banter atau kerja keras dan berdoa yang sungguh-sungguh. Di samping itu tentunya harus sabar ulet dan tidak gampang menyerah serta menjaga mutu dan kualitas gado-gado yang dijual bagi pelanggan," ujar H Mat Rais.

Pria kelahiran Lamongan tahun 1948 ini juga pernah berjualan keliling ke kantor-kantor pemerintahan. Mulai dari Pengadilan Negeri, Perhutani, Kejaksaan hingga kemudian berhenti di depan rumah Bupati Joko Supaat Selamet di barat kantor Kejaksaan Negeri Banyuwangi.

H Mat Rais menceritakan, pada masa itu, Pak Paat, panggilan akrab Bupati Banyuwangi, selalu nyicipi gado-gado yang dia jajakan.

Selanjutnya pada era Bupati Banyuwangi Purnomo Sidik dan Alm. Samsul Hadi, gado-gado DLLAJR Mat Rais tidak jarang menjadi salah satu sajian menu makanan bagi para tamu undangan maupun tamu pejabat Pemkab Banyuwangi.

Setelah dari kawasan kantor DLLAJR Banyuwangi, dia kemudian memindahkan gerobak gado-gadonya di sisi timur laut depan kantor Pemda Banyuwangi. Lokasi itu menjadi tempat menunggu angkot masyarakat dan berada bawah pohon besar yang rindang.

Baca Juga : Panekuki Lumajang, Mini-Pancake yang Kian Digemari

Tepatnya sekitar 3 bulan setelah Abdullah Azwar Anas menjabat Bupati Banyuwangi, sekitar akhir tahun 2010 atau awal 2011, tempat berjualan Mat Rais sempat kebanjiran hingga setinggi lutut orang dewasa. Lalu, dia ditawari berjualan di lahan kosong yang ditempatinya hingga sekarang.

Meski sudah beda lokasi, nama DLLAJR tetap digunakan sebagai pengingat hingga saat ini. Mat Rais menambahkan, gado-gadonya yang enak memakai resep warisan turun-temurun dari keluarga ayahnya yang sudah berjualan gado-gado di Jember sejak zaman Belanda. Bahkan, keluarga besarnya sebagian juga berprofesi sebagai penjual gado-gado.

Mat Rais juga bercerita saat ini putri dan menantunya yang menunggu lapak dan setia melayani pelanggan dan masyarakat yang ingin menikmati gado-gado. Sementara dia yang menyiapkan bumbu, memasak dan mengolah bahan untuk gado-gado.

Isi gado-gado DLLAJR sangat lengkap, seperti telur, kecambah, kubis, tahu, dan tentunya kacang untuk sambal kuah. Dalam sehari, rata-rata dia menghabiskan 5 kilogram beras untuk bahan lontong. Dulu, lontong di warung ini juga unik karena dibuat hampir sebesar betis orang dewasa.

Berkah menjadi penjual gado-gado, H. Mat Rais mampu membiayai pendidikan anak-anaknya. Bahkan, ada yang menjadi dosen dan ada pula yang menjadi santri di pondok pesantren. Ia juga mampu melaksanakan ibadah haji dan umrah di Tanah Suci.

Gado-gado DLLAJR setiap hari buka mulai pukul 10.00 WIB hingga habis sore hari. Saat ini, harganya Rp 15 ribu per porsi. Selain bisa dimakan di tempat, pembeli dan pelanggan juga menikmati gado-gado bungkus di rumah, kantor atau hotel tempat penginapan saat berkunjung dan berwisata di Banyuwangi.

Sehingga bagi pecinta kuliner, kurang lengkap sebelum menyantap gado-gado DLLAJR Banyuwangi. Rasanya khas dengan rasa manis dominan gurih. Bumbunya kuahnya juga kental dan mampu memanjakan lidah bagi pelanggan. 

Topik
Kuliner Banyuwangi

Berita Lainnya