JATIMTIMES - Memasuki malam ketiga Ramadan, suasana ibadah biasanya mulai terasa lebih khusyuk. Jika pada malam-malam pertama umat Islam masih beradaptasi dengan perubahan pola tidur dan aktivitas karena puasa, maka di malam ketiga semangat itu seharusnya sudah semakin kuat. Salat Tarawih pun tidak lagi sekadar rutinitas, tetapi mulai menjadi kebutuhan ruhani yang dinanti setiap selesai salat Isya.
Dalam kitab klasik Durratun Nashihin disebutkan berbagai keutamaan Salat Tarawih dari malam pertama hingga malam terakhir Ramadan. Walaupun penjelasan dalam kitab tersebut tidak bersumber dari hadis sahih, isinya kerap dijadikan sebagai pengingat dan motivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah selama bulan suci. Banyak umat Islam menjadikannya sebagai dorongan spiritual agar lebih bersemangat meraih pahala di setiap malam Ramadan.
Baca Juga : Buah atau Kurma, Mana yang Lebih Aman untuk Lambung Saat Berbuka Puasa?
Fadhilah Salat Tarawih Malam ke-3
Dalam keterangan kitab tersebut, malam ketiga Ramadan memiliki pesan yang istimewa. Disebutkan bahwa pada malam itu, malaikat yang berada di bawah Arasy menyeru kepada umat Islam. Seruan tersebut berisi ajakan untuk memperbanyak amal saleh dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah berikan.
Selain itu, terdapat kabar menggembirakan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah. Pesan ini menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah bulan penuh ampunan. Setiap malamnya membawa peluang baru untuk memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah.
Walaupun riwayat ini tidak berstatus sahih, maknanya tetap mengandung nilai positif. Ia mendorong umat Islam agar tidak menunda tobat dan tidak merasa cukup dengan ibadah yang telah dilakukan pada dua malam sebelumnya.
Menguatkan Komitmen Ibadah Sejak Awal Ramadan
Malam ketiga bisa menjadi titik evaluasi. Sudahkah ibadah dilakukan dengan sungguh-sungguh? Apakah Salat Tarawih masih terasa berat, atau justru mulai dinikmati?
Ramadan bukan hanya tentang kuantitas ibadah, tetapi juga kualitasnya. Salat Tarawih yang dilakukan dengan hati hadir dan penuh penghayatan tentu berbeda dengan salat yang dikerjakan terburu-buru. Di malam ketiga ini, umat Islam diajak untuk memperbaiki niat dan meningkatkan kekhusyukan.
Selain Salat Tarawih, ada banyak amalan lain yang bisa diperbanyak, seperti:
• Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an
• Memperbanyak zikir dan istigfar
• Bersedekah kepada yang membutuhkan
• Menjaga lisan dari perkataan sia-sia
• Menahan amarah dan memperbaiki akhlak
Semua itu menjadi bagian dari upaya menyempurnakan ibadah puasa.
Ramadan sebagai Bulan Perubahan
Ramadan sejatinya adalah madrasah ruhani. Di dalamnya, umat Islam dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu, memperbaiki kebiasaan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Malam ketiga menjadi simbol awal keseriusan dalam menjalani proses tersebut.
Jika pada awal Ramadan seseorang masih merasa berat bangun untuk sahur atau ke masjid untuk Tarawih, maka malam ketiga adalah momentum untuk menguatkan tekad. Konsistensi yang dibangun sejak awal akan memudahkan seseorang menjaga semangat hingga sepuluh malam terakhir yang penuh keutamaan.
Baca Juga : Program Unik di Talun, Bupati Blitar Dukung Pondok Ramadan Janda Lansia
Menganggap setiap malam Ramadan sebagai kesempatan terakhir juga dapat membantu menghadirkan kesungguhan dalam beribadah. Tidak ada yang tahu apakah seseorang akan bertemu Ramadan berikutnya. Karena itu, setiap rakaat Salat Tarawih sepatutnya dijalani dengan penuh kesadaran dan rasa syukur.
Menjadikan Malam Ketiga Sebagai Titik Awal Perbaikan
Terlepas dari perbedaan pendapat tentang validitas riwayat dalam kitab tersebut, pesan moralnya tetap relevan: jangan menunda kebaikan. Ampunan Allah begitu luas, dan Ramadan adalah waktu terbaik untuk memintanya.
Malam ketiga bukan sekadar hitungan hari, melainkan pengingat bahwa perjalanan Ramadan terus berjalan. Semakin cepat seseorang memperbaiki diri, semakin besar pula peluang meraih keberkahan di sisa hari-hari berikutnya.
Karena itu, mari jadikan Salat Tarawih malam ke-3 sebagai awal dari kesungguhan beribadah. Perbaiki niat, tingkatkan kualitas amal, dan isi Ramadan dengan kebaikan yang berkelanjutan. Semoga setiap langkah kecil yang dilakukan di bulan suci ini menjadi jalan menuju ampunan dan rahmat Allah.
