JATIMTIMES – Meski sempat menunjukkan penurunan Tinggi Muka Air (TMA), banjir yang merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Lamongan, dilaporkan kembali naik pada Jumat (20/2/2026).
Peningkatan debit air dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi serta meluapnya kawasan Bengawan Jero. Kondisi ini membuat perekonomian warga yang sudah terdampak selama tiga bulan terakhir, semakin terjepit.
Baca Juga : Satu Tahun Pasangan YES Dirham Pimpin Lamongan, Berikut Capaiannya
Rita Sugiarto, salah satu warga Dusun Meluke, Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket, mengaku perekonomian anjlok karena gagal panen. Terlebih bantuan yang diterima dari pemerintah sangatlah minim.
"Dapat bantuan tiga kilo beras. Padahal panen kami juga gagal, mulai tebar benih sampai sekarang nggak dapat apa-apa," ujar Rita Sugiarto saat ditemui bersama warga lainnya, Jumat (20/2/2026).
Menanggapi situasi yang berlarut-larut, Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Budi Irawan, meninjau langsung lokasi banjir di Dusun Meluke, Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket. Ia menegaskan pihaknya akan mengambil langkah kedaruratan untuk mempercepat penyusutan air.
"Yang jelas kita belum bisa melaksanakan langkah-langkah yang permanen untuk penanganan banjir, karena ini banjir tahunan dan sudah merendam sejak Bulan November. Kita akan melakukan langkah-langkah kedaruratan sesuai dengan bidang saya untuk memastikan kebuthan dasar masyarakat terpenuhi, dan kami akan tambah satu atau dua pompa besar lagi untuk mempercepat penurunan debit air," jelas Budi Irawan.
Baca Juga : Kantor Imigrasi Surabaya Menjadi Pilot Project Pengambilan Data Biometrik Paspor Dinas
Budi juga menyatakan akan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bisa terpenuhi selama masa darurat ini.
Banjir yang telah merendam kawasan Lamongan sejak November 2025 ini memicu desakan dari masyarakat. Warga berharap Pemerintah Daerah, Provinsi, maupun Pusat dapat bersinergi mengambil langkah konkret yang bersifat jangka panjang agar penderitaan tahunan ini tidak terus berulang.
