JATIMTIMES - Puasa kerap dipahami sebagai kewajiban tahunan di bulan Ramadan. Padahal, jika menengok jejak sejarah kenabian, ibadah ini adalah tradisi panjang yang telah dijalani para utusan Allah jauh sebelum umat Islam menerima perintah shaum seperti sekarang.
Alquran sendiri menegaskan kesinambungan itu. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 disebutkan, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Ayat ini menjadi penegas bahwa puasa bukan praktik baru, melainkan warisan spiritual lintas generasi nabi.
Baca Juga : 21 Gram Sabu hingga Uang Palsu Beredar di Magetan, Warga Diminta Waspada Jelang Lebaran
Dalam sejumlah riwayat yang dihimpun para ulama, termasuk yang dikutip Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Kisah Para Nabi dan Rasul, Rasulullah SAW pernah bersabda tentang puasa Nabi Nuh AS. “Puasa Nuh adalah satu tahun penuh, kecuali hari Idul Fitri dan Idul Adha.” Riwayat lain menyebut Nabi Daud AS berpuasa selang-seling, sehari berpuasa dan sehari berbuka, sementara Nabi Ibrahim AS berpuasa tiga hari setiap bulan.
Nabi Daud bahkan dikenal dengan pola puasa yang kemudian disebut sebagai salah satu bentuk puasa paling utama. Dalam hadis riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud, ia berpuasa sehari dan berbuka sehari.”
Jejak spiritual itu juga tampak pada Nabi Musa AS yang berpuasa selama 40 hari 40 malam sebelum menerima wahyu di Bukit Sinai. Laku yang hampir serupa dijalani Nabi Isa AS ketika mulai menyampaikan risalahnya kepada umat. Puasa menjadi ruang persiapan batin sebelum memikul amanah besar.
Dimensi empati sosial pun tercermin dari kisah Nabi Yusuf AS. Saat menjadi pejabat tinggi di Mesir, ia tetap menjaga kebiasaan menahan diri. Beliau menegaskan bahwa puasa bukan hanya relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi juga jembatan kepekaan terhadap sesama. “Karena aku khawatir apabila aku kenyang, nanti aku akan melupakan perut fakir miskin,” ujarnya.
Nabi Yunus AS menjalani fase paling sunyi dalam hidupnya ketika berada di dalam perut ikan besar. Dalam keterbatasan itu, ia menahan diri dari makan dan minum hingga akhirnya diselamatkan Allah. Nabi Ayub AS pun tetap teguh beribadah saat diuji penyakit dan kehilangan bertahun-tahun. Puasa menjadi bagian dari ketabahan mereka.
Tradisi para nabi ini memperlihatkan bahwa puasa adalah latihan pengendalian diri yang melampaui sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia membentuk ketakwaan, kesabaran, serta kesadaran akan ketergantungan manusia kepada Allah.
Baca Juga : Mitos atau Fakta: Tidur Setelah Sahur Bikin Gemuk? Ini Penjelasan Medisnya Menurut Dokter Tirta
Dari Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad SAW, puasa adalah jalan panjang menuju ketakwaan. Bulan spesial ini bukan sekadar rutinitas Ramadhan, melainkan warisan spiritual yang menuntun manusia agar lebih sadar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Tuhannya.
Rujukan kisah mengenai tradisi puasa para nabi tersebut bersumber dari literatur klasik Islam, terutama karya Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya atau yang dikenal sebagai Kisah Para Nabi dan Rasul, yang menghimpun riwayat hadis, atsar sahabat, serta penjelasan ulama terdahulu. Riwayat tentang puasa Nabi Nuh AS dinisbatkan kepada hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah dalam Sunan-nya, meski sebagian ulama berbeda pendapat mengenai kualitas sanadnya.
Adapun hadis tentang puasa Nabi Daud AS sebagai puasa yang paling dicintai Allah termuat dalam kitab-kitab hadis sahih seperti Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Sementara itu, keterangan Nabi Musa AS berpuasa 40 hari 40 malam merujuk pada Alquran Surah Al-A’raf ayat 142 yang kemudian diperluas penjelasannya dalam kitab-kitab tafsir. Beberapa detail tambahan tentang Nabi Daud AS juga dikenal dalam tradisi Perjanjian Lama dan kerap dikategorikan sebagai riwayat Israiliyat oleh para ulama, dengan catatan tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.
