JATIMTIMES – Potensi besar sektor pertanian dan peternakan di Kota Batu mampu mendukung pemenuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejumlah daerah di Jawa Timur. Namun, di tengah moncernya pengiriman komoditas lokal tersebut, serapan untuk kebutuhan MBG daerah sendiri justru dinilai belum maksimal dibandingkan pengiriman ke luar kota.
Berbagai produk unggulan seperti susu pasturisasi, stroberi, jambu kristal, hingga sayur-mayur jenis brokoli dan wortel kini rutin mengalir ke kota-kota besar seperti Surabaya dan Kediri untuk memenuhi standar gizi masyarakat di sana.
Baca Juga : Anggaran Berantas Plus Menipis, Sopir Ambulans Rakyat Belum Digaji
Praktisi pertanian Kota Batu Rakhmad Hardiyanto mengungkapkan bahwa produk-produk asal Batu sejatinya sangat diminati karena telah memenuhi standar kualitas yang ketat. Namun, saat ini distribusi lebih banyak mengarah ke luar daerah karena sistem kemitraan dan rantai pasok yang lebih dulu terbentuk dengan pasar modern dan lembaga di luar kota.
"Kami sudah rutin mengirim susu pasturisasi ke Surabaya untuk program gizi. Bahkan produksinya sudah standar BPOM. Begitu juga dengan hortikultura seperti brokoli dan kentang. Secara kualitas kita sangat siap. Namun memang sejauh ini serapannya masih banyak ke luar Batu," ujarnya saat ditemui, belum lama ini.
Belum maksimalnya serapan lokal ini disinyalir karena mekanisme program Makan Bergizi Gratis di tingkat daerah masih dalam tahap pematangan proses dan asesmen. Sementara itu, pelaku sektor pertanian di Batu memerlukan kepastian serapan yang berkelanjutan agar siklus produksi petani tidak terganggu.
Pria yang akrab disapa Hardi itu menyampaikan, pengiriman ke luar kota dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi petani agar hasil panen mereka tetap terserap dengan harga yang layak. Kendati demikian, ia menegaskan adanya komitmen kuat untuk mengutamakan kebutuhan lokal melalui konsep local to local jika sistem di daerah sudah siap sepenuhnya.
"Prinsipnya kita tidak ingin hit and run. Untuk masuk ke program Makan Bergizi itu, ada asesmen ketat dari ahli gizi, mereka datang langsung mengecek kualitas dan keamanan pangannya. Sebenarnya kami sangat berharap produk lokal Batu bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri melalui program ini," imbuh CEO Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (COOSAE) itu.
Baca Juga : Nasib Bianglala Alun-Alun Kota Batu Masih Gantung, DPRD Desak Audit Konstruksi demi Keselamatan Wisatawan
Guna mengejar ketertinggalan serapan lokal, standardisasi melalui Good Agriculture Practice (GAP) kini terus digenjot bagi para petani. Dengan mengantongi sertifikat budidaya yang sehat, produk petani Batu memiliki daya tawar tinggi dan legalitas yang kuat untuk masuk ke instansi pemerintah maupun sektor swasta di dalam kota.
Ia berharap, Dinas Pendidikan dan dinas terkait lainnya dapat memperkuat kolaborasi dengan ekosistem pertanian lokal. Langkah ini dinilai strategis agar anggaran daerah yang dialokasikan untuk gizi anak-anak di Kota Batu bisa berputar kembali ke kantong para petani lokal sendiri, bukan justru menguntungkan distributor dari luar daerah.
"Ke depan, ada rencana pembangunan sentra pengemasan atau packing house terpadu agar produk pertanian Batu tidak langsung dijual dalam bentuk mentah ke luar kota. Tapi ada sentra sortir dan pengemasan yang terstandar di dalam daerah," tutupnya.
