Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Produktivitas RI Tertahan Budaya Kerja, Praktisi Ungkap Disiplin Jepang Jadi Kunci Daya Saing

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana

03 - May - 2026, 15:40

Placeholder
Praktisi pendidikan dan industri internasional dari IFECE, Stefanie Djunian Djaja saat berada di STIE Malangkucecwara (ist)

JATIMTIMES - Produktivitas tenaga kerja Indonesia dinilai masih tertahan oleh persoalan mendasar yang kerap dianggap sepele, yakni budaya disiplin, keteraturan, dan kebiasaan menjaga standar kerja. Isu itu mengemuka dalam seminar 5S dan budaya kerja Jepang yang digelar STIE Malangkucecwara, belum lama ini, dengan menghadirkan praktisi pendidikan dan industri internasional dari IFECE, Stefanie Djunian Djaja.

Di tengah bonus demografi dan meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi, Indonesia justru menghadapi tantangan kualitas sumber daya manusia. Banyak tenaga kerja dinilai cepat beradaptasi dan kreatif, tetapi lemah dalam konsistensi, ketepatan waktu, serta budaya evaluasi berkelanjutan.

Baca Juga : Rakerda Golkar Situbondo: Ali Mufthi Tekankan Sinergi Partai dan Pemerintah Daerah

Stefanie menilai perbedaan paling mencolok antara Indonesia dan Jepang bukan terletak pada kecerdasan individu, melainkan cara membangun kebiasaan kerja. Jepang, kata dia, menanamkan disiplin sejak hal paling sederhana, mulai kebersihan area kerja, penataan barang, efisiensi waktu, hingga perbaikan kecil yang dilakukan terus-menerus.

“Di Jepang, perbaikan dilakukan setiap hari melalui Kaizen. Jadi bukan menunggu masalah datang dulu baru dibenahi. Kebiasaan seperti itu yang membuat sistem kerja mereka kuat,” ujarnya.

Menurut dia, banyak tempat kerja di Indonesia masih menggunakan pola reaktif. Pembenahan baru dilakukan ketika target meleset, keluhan muncul, atau kerusakan sudah terjadi. Akibatnya, energi perusahaan habis untuk menyelesaikan masalah yang seharusnya bisa dicegah sejak awal.

Ia menjelaskan konsep 5S di Jepang sejatinya tidak asing bagi Indonesia karena memiliki padanan 5R, yakni Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin. Namun persoalan utamanya bukan kurangnya konsep, melainkan lemahnya implementasi.

“Kalau di Indonesia istilahnya sudah ada 5R. Tetapi yang penting bukan sekadar tahu istilahnya. Yang penting adalah menjadi budaya sehari-hari,” katanya.

Stefanie menilai persoalan ini juga tampak di dunia pendidikan. Banyak mahasiswa fokus mengejar nilai akademik, tetapi belum cukup dilatih soal etos kerja, tanggung jawab kolektif, komunikasi profesional, dan konsistensi menjalankan prosedur.

Padahal, menurut dia, kebutuhan industri global saat ini bergeser. Perusahaan tidak hanya mencari lulusan pintar, tetapi individu yang dapat bekerja dalam sistem, menghargai waktu, menjaga mutu, dan mampu memperbaiki proses secara terus-menerus.

Baca Juga : Aftershine Guncang Puncak HUT ke-120 Kota Blitar, Mas Ibin Tegaskan Transformasi Menuju Kota Masa Depan

Ia mencontohkan pengalaman mahasiswa Indonesia yang mengikuti program magang di Jepang. Mereka tidak hanya belajar teknis pekerjaan, tetapi juga menyerap standar kerja yang ketat, mulai cara menerima bahan baku, penghitungan biaya, alur distribusi, hingga ketelitian dalam pelayanan.

“Mahasiswa ekonomi dan akuntansi juga bisa belajar banyak di Jepang, mulai komunikasi bisnis, manajemen risiko, perhitungan biaya produksi, sampai proses distribusi. Itu pengalaman nyata yang sangat berharga,” jelasnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan daya saing Indonesia bukan semata kurangnya peluang, melainkan kesiapan budaya kerja. Selama disiplin masih dianggap beban dan keteraturan belum menjadi kebutuhan, lulusan Indonesia akan sulit bersaing di pasar internasional.

Melalui diskusi tersebut, pesan yang muncul cukup jelas, yakni Indonesia tidak kekurangan talenta, tetapi masih membutuhkan revolusi kebiasaan kerja. Jepang menjadi contoh bahwa kemajuan industri dibangun bukan hanya dengan teknologi, melainkan karakter manusia yang menghargai proses, detail, dan perbaikan tanpa henti.


Topik

Pendidikan stie malangkucecwara stefanie djunian djaja budaya kerja



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pacitan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Dede Nana

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan