Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

SMAN 2 Kota Malang Dukung Gernas RANA, Perkuat Komitmen Ciptakan Sekolah Aman dan Nyaman

Penulis : Hendra Saputra - Editor : Yunan Helmy

13 - Jul - 2026, 18:36

Placeholder
Delegasi SMAN 2 Kota Malang dalam peluncuran Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak di Aula Metrika BBPPMPV BOE Malang, Senin 13 Juli 2026. (ist)

 

 

JATIMTIMES – SMAN 2 Kota Malang (Smanda) menunjukkan komitmennya dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman dengan mengikuti peluncuran Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA): Wujudkan MPLS Ramah 2026 di Aula Metrika BBPPMPV BOE Malang, Senin 13 Juli 2026.

Tiga menteri hadir dalam peluncuran Gernas RANA ini. Yakni Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof Dr Pratikno MSoc Sc, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Dr Abdul Mu'ti MEd, serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, dan Bupati Malang Sanusi juga hadir dalam peluncuran Gernas RANA ini.

Baca Juga : LLDIKTI VII Perkuat Akuntabilitas Tunjangan Dosen, Unikama Jadi Lokasi Uji Petik Sistem Kinerja

Dalam kegiatan tersebut, SMAN 2 Kota Malang mengirimkan delegasi yang terdiri atas kepala sekolah, seorang guru, seorang perwakilan komite sekolah, serta tujuh siswa. Partisipasi tersebut sejalan dengan berbagai upaya yang selama ini dilakukan SMAN 2 Kota Malang untuk menjadikan sekolah sebagai tempat belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik, baik dari sisi akademik maupun karakter.

Kepala SMAN 2 Kota Malang Eny Retno Diwati MPd mengapresiasi peluncuran Gernas RANA yang dinilai sejalan dengan visi sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang berpihak kepada anak. "Sebagai kepala sekolah, kami sangat mengapresiasi dan mendukung terwujudnya sekolah yang aman dan nyaman. Sekolah bukan hanya harus bebas dari kekerasan, tetapi juga menjadi ruang yang membuat setiap anak merasa dihargai, didengar, dilindungi, serta memiliki kesempatan untuk berkembang secara optimal," ujarnya.

Eny menjelaskan, SMAN 2 Kota Malang terus membangun budaya sekolah yang dilandasi nilai saling menghormati, kepedulian, dan tanggung jawab bersama. Berbagai langkah telah diterapkan, mulai dari penguatan pendidikan karakter, pelaksanaan kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan, penyediaan layanan bimbingan dan konseling yang mudah diakses, hingga membangun komunikasi yang terbuka antara siswa, guru, orang tua, dan pihak sekolah.

Selain itu, SMAN 2 mendorong seluruh warga sekolah agar tidak ragu menyampaikan aspirasi maupun melaporkan apabila menemukan perundungan atau bentuk kekerasan lainnya. Dengan demikian, setiap persoalan dapat ditangani secara cepat, tepat, dan berkeadilan.

Menurut Eny, berbagai kegiatan sekolah juga dirancang untuk membangun iklim yang inklusif, menghargai keberagaman, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan sekolah. "Kami berharap SMAN 2 Kota Malang benar-benar menjadi rumah kedua bagi para siswa, tempat mereka merasa aman untuk belajar, nyaman untuk bertumbuh, serta percaya diri dalam mengembangkan potensi dan meraih cita-cita. Kami ingin melahirkan generasi yang cerdas secara akademik maupun nonakademik dengan tetap menjunjung tinggi adab dan karakter mulia," ungkap Eny.

Baca Juga : Jatim Jadi Tuan Rumah Pelaksanaan MPLS Ramah Nasional, Disdik sebut Tidak Ada Toleransi untuk Perpeloncoan

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof Dr Pratikno MSoc Sc menegaskan pentingnya menjadikan sekolah sebagai ruang yang aman dan nyaman bagi anak. Menurut dia, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual peserta didik.

"Tidak ada gunanya kita mendidik anak-anak menjadi pintar kalau mereka tidak sehat secara fisik maupun mental. Nilai akademik yang tinggi tidak akan berarti apabila anak menjadi korban kekerasan karena dampaknya sangat besar terhadap masa depan mereka," kata Pratikno.

Mantan rektor UGM Yogyakarta itu menjelaskan, anak yang mengalami kekerasan berisiko mengalami ketakutan, kecemasan, gangguan mental, bersikap agresif, mudah marah, hingga menarik diri dari lingkungan pergaulan. Di lingkungan sekolah, kondisi tersebut juga dapat memicu gangguan belajar, menurunkan rasa percaya diri, membuat anak merasa tidak berharga, dan sulit mempercayai orang lain.

Pratikno juga mengingatkan bahwa persoalan kesehatan mental anak menjadi tantangan yang semakin serius. Berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan periode 2025–2026, hampir 10 persen anak Indonesia menunjukkan indikasi gangguan kesehatan jiwa. Dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, sebanyak 338 ribu anak atau 4,4 persen mengalami gejala gangguan kecemasan. Sedangkan sekitar 363 ribu anak atau 4,8 persen menunjukkan gejala depresi.

Melalui Gernas RANA, pemerintah mendorong terciptanya empat ruang aman dan nyaman bagi anak, yakni lingkungan keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, serta ruang digital, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal di setiap aspek kehidupannya.


Topik

Pendidikan SMAN 2 Kota Malang Gernas RANA sekolah aman sekolah nyaman sekolah ramah anak



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pacitan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Hendra Saputra

Editor

Yunan Helmy

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan