Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Aksi Nyata Mahasiswa Teknik Lingkungan Sebagai Agen Perubahan: Pengabdian KMTL Social Project Kepada Masyarakat Berbasis SDGs 2026

Penulis : Redaksi - Editor : Redaksi

24 - Aug - 2026, 11:30

Placeholder
Aksi Nyata Mahasiswa Teknik Lingkungan saat melakukan Pengabdian KMTL Social Project Kepada Masyarakat Berbasis SDGs 2026 (Foto: Dokumentasi Kegiatan Panitia for Jatimtiimes.com)

JATIMTIMES - Mahasiswa memiliki peran sebagai agen perubahan khususnya bagi masyarakat. Dalam mewujudkan peran tersebut Keluarga Besar Mahasiswa Teknik Lingkungan (KMTL) kini hadir kembali untuk unjuk aksi kepedulian terhadap masyarakat dalam kegiatan tahunan yakni KMTL Social Project. Setelah hadir dengan inovasi Cocopet, Takakura, juga Outing Class tahun lalu, kini kembali diselenggarakan lewat tema dan inovasi terbaru. Dengan mengusung tema “Bakti Aruna Abadi” yang memiliki makna semangat pengabdian yang terus tumbuh dan berkelanjutan, KMTL Social Project hadir untuk memberikan kontribusi nyata serta menumbuhkan kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan. 

Social project kali ini dilaksanakan di Dusun Genderan, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Malang dengan empat rangkaian utama berupa: pencerdasan, sosialisasi, visitasi, dan controlling secara sistematis. Kegiatan Social Project kali ini memperkenalkan tiga inovasi untuk dibawakan kepada masyarakat di Desa Sukodadi.

Baca Juga : Minat Masyarakat Ikut Tajemtra Tinggi, Disporbudpar Targetkan 25 Ribu Peserta

Kegiatan ini sebagai aksi nyata bahwa Keluarga Besar Teknik Lingkungan Universitas Brawijaya, berkontribusi langsung untuk mendukung terlaksanakanya program Sustainable Development Goals (SDGs) yang relevan dengan kajian dalam Teknik Lingkungan. Terdapat tiga inovasi dalam program KMTL Social Project 2026 yang akan diperkenalkan kepada masyarakat sebagai bentuk implementasi langsung poin SDGs nomor 4 tentang pendidikan berkualitas, nomor 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta nomor 13 tentang penanganan perubahan iklim. Ketiga poin tersebut diwujudkan melalui edukasi, penerapan pengelolaan sumber daya yang bijak, serta upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan perubahan iklim. 

POSARI (Kompos Padat Cair Alami) hadir sebagai inovasi yang diperkenalkan kepada masyarakat Desa Sukodadi untuk membantu mengatasi permasalahan penumpukan sampah organik yang menimbulkan bau tidak sedap. Inovasi ini memanfaatkan dua ember yang disusun bertingkat sebagai media pengolahan sampah dapur sehari-hari menjadi pupuk organik cair dan pupuk padat. Melalui penerapan prinsip pencegahan, daur ulang, dan pemanfaatan kembali, POSARI mampu mengolah limbah makanan serta dedaunan agar memiliki nilai guna yang lebih tinggi. Produk pupuk organik cair yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai tambahan nutrisi bagi lahan pertanian, sekaligus mengurangi potensi pencemaran lingkungan akibat penumpukan sampah organik. Kondisi sampah organik yang tidak terkelola dengan baik sering kali memunculkan aroma tidak sedap, meningkatkan keberadaan lalat dan tikus sebagai pembawa penyakit, serta berpotensi mencemari tanah dan sumber air apabila dibuang secara sembarangan. Dengan inovasi pertama, diharapkan penerapan POSARI tidak hanya membantu mengurangi volume sampah organik, tetapi juga mendukung terciptanya lingkungan rumah yang lebih bersih, rapi, dan sehat.

Inovasi Kedua yakni, Biopot tebu merupakan media penyemaian bibit tanaman yang dibuat dari pemanfaatan limbah ampas tebu, material yang selama ini sering kali dibakar atau belum dimanfaatkan secara optimal. Inovasi ini dirancang sebagai alternatif pengganti polybag konvensional dengan karakteristik ramah lingkungan karena bersifat biodegradable atau dapat terurai secara alami di lingkungan. Melalui pemanfaatan limbah ampas tebu sebagai bahan utama, biopot tebu menghadirkan solusi yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat Desa Sukodadi, khususnya pada sektor pertanian tebu serta budidaya tanaman seperti jeruk, cabai, dan komoditas lainnya. Cara kerja biopot tebu menyerupai polybag yang umum digunakan sebagai media tanam awal. Perbedaannya terletak pada sifat materialnya yang mudah terurai sehingga wadah tidak perlu dilepas ketika tanaman mulai tumbuh dan siap dipindahkan ke lahan. Kondisi ini membuat proses penanaman menjadi lebih praktis, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta mendukung peningkatan efisiensi dan produktivitas kegiatan pertanian masyarakat. Pengembangan inovasi ini juga bertujuan mengurangi penumpukan dan pembakaran limbah ampas tebu yang berpotensi menghasilkan polusi udara dan mencemari lingkungan sekitar. Dengan mengolah limbah menjadi produk yang lebih bermanfaat dan bernilai guna, jumlah emisi asap akibat pembakaran dapat ditekan sehingga kualitas udara tetap terjaga dan lingkungan menjadi lebih bersih serta sehat bagi masyarakat.

Inovasi ketiga difokuskan pada pendekatan edukatif sebagai upaya menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia dini melalui kegiatan yang interaktif dan kreatif. EDUPIN (Edukasi Bersama Berbasis Pin) dikembangkan sebagai media pembelajaran bagi anak-anak sekolah dasar di Desa Sukodadi untuk memperkenalkan pentingnya menjaga lingkungan melalui pemanfaatan kembali barang-barang bekas yang masih memiliki nilai guna. Program ini memanfaatkan bahan sederhana yang mudah ditemukan di sekitar, seperti botol plastik bekas, kardus, dan kertas, yang kemudian diolah menjadi media pembelajaran interaktif. Melalui metode bercerita menggunakan tokoh-tokoh sederhana dari bahan bekas, EDUPIN menghadirkan proses belajar yang lebih menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak. Pendekatan tersebut tidak hanya menyampaikan materi mengenai lingkungan, tetapi juga menanamkan pesan moral tentang pentingnya menjaga kebersihan, mengurangi timbulan sampah, serta memanfaatkan kembali barang yang masih dapat digunakan.

Bagi lingkungan sekolah, penerapan EDUPIN memberikan alternatif media edukasi yang kreatif sekaligus mendukung pembelajaran berbasis praktik secara langsung. Sementara itu, bagi anak-anak, kegiatan ini menjadi sarana untuk mengembangkan kreativitas serta membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan barang bekas menjadi produk sederhana yang bernilai guna diharapkan dapat membentuk pola pikir yang lebih bijak terhadap penggunaan material sekali pakai sekaligus memperkenalkan penerapan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R) sejak dini. Melalui pendekatan yang sederhana namun aplikatif, EDUPIN tidak hanya berperan sebagai media pembelajaran lingkungan, tetapi juga menjadi langkah awal dalam membentuk generasi yang lebih peduli terhadap keberlanjutan lingkungan di masa mendatang.


Topik

Pendidikan pengabdian mahasiswa universitas brawijaya Ub Malang Mahasiswa UB



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pacitan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Redaksi

Editor

Redaksi

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan