Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

Rhenald Kasali Kritik Narasi Rupiah Melemah Adalah Strategi: Nggak Ngerti Teori Ekonomi

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

21 - May - 2026, 10:21

Placeholder
Kolase foto Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Rhenald Kasali dan konten kreator Bennix. (Foto: tangkapan layar Instagram)

JATIMTIMES - Pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ramai dibahas di media sosial. Di tengah kurs dolar AS yang terus menguat, muncul sejumlah konten kreator yang menyebut rupiah melemah justru menguntungkan Indonesia dan bisa menjadi strategi agar ekonomi semakin kuat.

Narasi itu kemudian mendapat sorotan dari Rhenald Kasali. Pakar manajemen sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) tersebut menilai anggapan bahwa pelemahan rupiah adalah strategi ekonomi merupakan pemahaman yang keliru.

Baca Juga : IHSG Mendadak Ambles Saat Prabowo Pidato, Ini Alasannya 

“Kalian udah ikutin belum? Makin banyak influencer yang belakangan ini membenarkan rupiah kita semakin lemah dan katanya itu bagian dari strategi,” ujar Rhenald Kasali.

Ia lalu menyinggung pernyataan salah satu konten kreator, Bennix, yang menyebut Indonesia justru akan diuntungkan jika rupiah melemah.

“Ternyata ketika rupiah melemah, Indonesia diuntungkan. Kalau Indonesia mau jadi negara maju, ya rupiah harus melemah. Simple aja. Kenapa Cina bisa sebegitu powerful, ekonominya bangkit? Simple, karena yuan lemah. Sengaja bahkan dilemahkan sama pemerintahnya,” ujar Bennix dalam kontennya.

Menurut Bennix, mata uang yang lebih lemah membuat harga produk ekspor menjadi lebih murah sehingga mampu meningkatkan daya saing di pasar global.

“Kenapa sengaja dilemahkan? Supaya barang-barang made in China harganya lebih murah. Kompor made in China lebih murah dibanding kompor made in Amerika Serikat,” kata Bennix. 

Ia bahkan menyebut masyarakat tidak perlu panik jika rupiah menembus Rp17 ribu hingga Rp18 ribu per dolar AS.

“Jadi lu gak usah panik kalau rupiah naik ke 17.000, 18.000. Panik gak? Enggak, gak usah panik. Kenapa? Indonesia bisa tambah cuan,” ujar Bennix. 

Menanggapi hal itu, Rhenald Kasali menilai pernyataan tersebut menunjukkan kurangnya pemahaman mengenai cara kerja ekonomi secara menyeluruh.

“Nah ini kelihatan sekali, nggak ngerti teori ekonomi, nggak ngerti bagaimana ekonomi bekerja,” tegasnya.

Menurut Rhenald, strategi pelemahan mata uang yang pernah dilakukan negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, hingga Taiwan tidak bisa disamakan begitu saja dengan kondisi Indonesia saat ini.

“Kondisinya berbeda ketika Taiwan memulai ekspor, Jepang memulai ekspor, Korea Selatan, China. Beda kondisinya,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pelemahan mata uang hanya bisa menjadi strategi jika ditopang banyak faktor pendukung. “Untuk bisa menjadikan suatu strategi harus komprehensif,” katanya.

Rhenald juga menyoroti langkah Bank Indonesia yang selama beberapa bulan terakhir terus melakukan intervensi untuk menahan pelemahan rupiah.

“Bank sentralnya nggak nahan itu pelemahan. Ini coba lihat, Indonesia Bank Sentral sejak Desember kemarin sampai sekarang sudah mengeluarkan sekitar 10 miliar USD untuk menahan rupiah supaya tidak jatuh terlalu jauh,” ujarnya.

Menurutnya, langkah itu justru menunjukkan bahwa pelemahan rupiah bukan bagian dari strategi pemerintah. “10 miliar itu artinya berapa? 170 triliun rupiah untuk menahan (agar nilai tukar rupiah tidak semakin anjlok atas dolar),” katanya.

Ia menggambarkan bagaimana Bank Indonesia terus menggelontorkan devisa saat rupiah tertekan.

“Kan sering kita lihat tuh, hari Jumat harganya udah 16.800, ditahan oleh BI menjadi 16.600. Hari Senin udah naik lagi di atas 17.000. Begitu, akhirnya BI harus gelontorkan lagi, gelontorkan lagi. Setiap bulan, (menggelontorkan) 2 sampai 3 miliar USD (untuk menekan anjloknya rupiah),” ujarnya.

Rhenald Kasali menilai narasi bahwa rupiah sengaja dilemahkan juga bertentangan dengan pernyataan pemerintah sendiri. 

Baca Juga : Konsep Street Food Jember Usung Nuansa Nusantara dan Dunia 

Ia menyinggung pernyataan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Purbaya Yudhi Sadewa yang pernah menyebut rupiah bisa kembali ke level Rp15 ribu per dolar AS.

“Lalu kemudian Menteri Keuangannya Purbaya mengatakan, ntar saya bisa kembaliin kok jadi 15.000. Lah itu kan sudah bertentangan dengan anggapan saudara bahwa itu adalah strategi,” katanya.

Rhenald juga menyinggung pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyebut asumsi kurs rupiah berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.

“Bahkan Presiden Prabowo beberapa waktu yang lalu baru aja pidato mengatakan, asumsi rupiah kita, dolarnya adalah 16.800 sampai 17.500. Kan bukan strategi itu,” ujarnya.

Menurut Rhenald, strategi pelemahan mata uang hanya bisa berhasil jika negara memiliki cadangan devisa besar, surplus perdagangan kuat, serta rantai produksi nasional yang matang.

“Nah, jadi kalau strategi pelemahan mata uang rupiah itu sebagai strategi untuk menguasai pasar internasional, ada syaratnya. Syaratnya cadangan devisa kita harus besar, surplus perdagangan kita sudah besar,” katanya.

Ia menilai Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor, mulai bahan mentah hingga bahan baku industri.

“Ini kita apa-apa impor, bahan mentahnya impor, bahan bakunya impor, bahan kimia impor, packaging-nya impor. Lalu kemudian yang kita punya cuma tenaga kerja dan market di domestik,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi itu membuat pelemahan rupiah justru membebani biaya produksi dalam negeri. “Jadi ketika sekarang rupiah ini melemah, dampaknya ke kita semua. BBM harus dibayar pakai dolar,” katanya.

“Lalu kemudian kita yang mau usaha bahan bakunya, semuanya kita harus gunakan dengan membayar dengan dolar. Karena sebagian besar adalah import. Akibatnya biaya produksi jadi mahal,” sambungnya.

Rhenald mengatakan kondisi itu nantinya juga bisa berdampak pada tuntutan kenaikan upah buruh karena biaya hidup semakin tinggi.

“Kalau biaya produksi mahal, dan kemudian buruh kita yang bekerja pasti akan minta naik upah pada akhir tahun depan. Gimana nih keadaan?” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Rhenald Kasali meminta para influencer lebih berhati-hati saat membahas isu ekonomi karena masyarakat kini semakin kritis.

“Jadi bagi mereka yang ngomong sebagai influencer, agak berhati-hati, masyarakat kita semakin pandai dan ekonomi tidak bisa dilihat sepotong-potong,” katanya.

Ia menjelaskan persoalan ekonomi harus dipahami sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan. “Semuanya harus konsisten menjadi satu kesatuan,” ujarnya.


Topik

Ekonomi Rhenald Kasali rupiah Narasi Rupiah Melemah Rupiah Melemah Strategi Teori Ekonomi



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pacitan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Ekonomi

Artikel terkait di Ekonomi