JATIMTIMES – Masyarakat dan wisatawan di Kota Batu merasakan sensasi hawa dingin yang menusuk tulang dalam kurun waktu beberapa hari terakhir. Fenomena alam tahunan yang populer disebut sebagai musim bediding ini kembali menyelimuti kawasan Malang Raya, di mana merkuri termometer di wilayah kota wisata ini dilaporkan anjlok hingga menyentuh angka ekstrem 16 derajat celcius.
Kondisi cuaca yang membuat tubuh menggigil ini dibenarkan langsung oleh Forecaster on Duty Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Karangploso, Retno Wulandari. Berdasarkan hasil analisis data prakiraan cuaca terbaru, penurunan suhu udara yang cukup mencolok di dataran tinggi Kota Batu tersebut diproyeksikan masih akan bertahan kuat hingga beberapa pekan ke depan.
Baca Juga : 86 Medali IKMC 2026 Perlihatkan Daya Saing Global Siswa MTsN 2 Kota Malang
“Pada saat memasuki waktu malam hari hingga menjelang dini hari, suhu udara rata-rata bakal tertahan di rentang angka 16 sampai 18 derajat celcius,” papar Retno Wulandari dalam keterangannya, Jumat (5/6/2026).
Sementara itu, untuk pergerakan suhu udara maksimal pada siang hari diprediksi hanya akan berkisar di antara angka 25 hingga 28 derajat celcius. Retno membeberkan bahwa terdapat dua faktor meteorologi utama yang menjadi motor penggerak merosotnya suhu udara belakangan ini, di mana faktor pertama dipicu oleh sangat minimnya tutupan awan di atas langit selama berlangsungnya musim kemarau.
Ketiadaan awan berakibat pada pelepasan energi panas bumi yang diserap siang hari langsung melesat kembali ke atmosfer tanpa ada penghalang pada malam hari. Faktor penguat kedua berasal dari pergerakan sirkulasi angin di belahan bumi selatan, di mana wilayah Indonesia saat ini sedang dilintasi oleh Monsun Australia yang membawa karakteristik massa udara cenderung kering dan bersuhu jauh lebih dingin.
“Pada siang hari permukaan bumi menyerap panas matahari, tetapi pada malam hari panas tersebut dilepaskan kembali ke atmosfer. Karena tidak ada awan, maka panas tersebut menjadi lebih cepat dilepaskan,” urainya.
Pihak BMKG memperkirakan bahwa siklus musim kemarau ini akan terus bergulir hingga bulan Oktober mendatang. Selama masa periode tersebut, masyarakat luas bakal merasakan embusan udara yang jauh lebih sejuk hingga dingin menusuk, terutama pada area pegunungan dan dataran tinggi sekelas Kota Batu.
Baca Juga : Lapak Semipermanen Menjamur di Kawasan Alun-Alun, Pemkot Batu Bakal Data Ulang PKL
Uniknya, meski bikin merinding, kondisi atmosfer yang mirip dengan iklim di luar negeri ini justru bertindak sebagai magnet kuat bagi sektor pariwisata daerah. Titik-titik pusat keramaian, mulai dari kawasan Alun-Alun Kota Batu hingga objek wisata alam terbuka, dilaporkan semakin dipadati oleh para pelancong yang ingin menikmati sensasi dingin eksotis tersebut.
Guna mengantisipasi dampak perubahan cuaca yang berlangsung cepat, pihak BMKG mengingatkan warga lokal maupun para wisatawan untuk mempertebal proteksi kesehatan fisik masing-masing secara matang. Perlengkapan pakaian hangat wajib disiapkan agar imunitas tubuh tidak ambruk akibat serangan cuaca dingin ekstrem.
“Sangat disarankan untuk tidak lupa membawa jaket tebal, pakaian hangat, serta menjaga kondisi tubuh agar tetap fit selama menikmati liburan agar tidak rentan terserang penyakit,” pungkas Retno.
