Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Ogoh-Ogoh Babi Hutan dari Barang Bekas Tampil di Karnaval Dinoyo, Bawa Pesan Jaga Mata Air

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

01 - Sep - 2026, 19:30

Placeholder
Ogoh-ogoh babi hutan membawa pesan "Jaga Mata Air Sebelum Jadi Air Mata". (Foto: istimewa)

JATIMTIMES - Warga Gang X Dinoyo, Kota Malang, mengangkat isu konservasi mata air dalam gelaran karnaval yang digelar pada Minggu, 31 Agustus 2026. Pesan lingkungan itu disampaikan melalui sebuah ogoh-ogoh berbentuk babi hutan yang digambarkan keluar dari rumpun bambu.

Ogoh-ogoh tersebut membawa pesan "Jaga Mata Air Sebelum Jadi Air Mata". Kampanye itu menjadi bentuk keresahan warga, khususnya petani, terhadap ketersediaan air di tengah pembangunan yang terus berkembang di Kota Malang. 

Baca Juga : Angkutan Pelajar Gratis Jalan, Pembenahan Angkot Malang Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Inisiatif pembuatan ogoh-ogoh ini berasal dari warga RT 5 RW 5 Kelurahan Dinoyo. Konsep ogoh-ogoh sendiri telah dikembangkan sejak 2024 dan kembali direkondisi untuk ditampilkan dalam karnaval tahun ini.

Adi, salah satu inisiator, mengatakan tema tersebut dipilih karena adanya keresahan yang disampaikan sejumlah petani yang dibinanya. "Isu yang saya ingin angkat adalah tentang konservasi sumber mata air di tengah gencarnya pembangunan," kata Adi kepada JatimTIMES, Selasa (1/9/2026). 

Menurut dia, persoalan air kerap kalah ramai dibandingkan isu ketahanan pangan. Padahal, keduanya saling berkaitan. "Sekarang banyak isu ketahanan pangan, tapi lupa dengan isu konservasi atau ketahanan air," ujarnya.

Adi menilai pembahasan ketahanan pangan tidak bisa dilepaskan dari persoalan air. Sebab, petani membutuhkan ketersediaan air untuk menjaga produktivitas lahan. "Ketahanan pangan sangat bergantung di ketersediaan air," katanya.

Ia menilai perhatian masyarakat selama ini lebih banyak tertuju pada berbagai sumber energi seperti minyak bumi, batu bara dan listrik. "Sedangkan energi air seolah-olah terlupakan," ujarnya.

Keresahan tersebut, kata Adi, juga muncul dari kondisi yang dihadapi sejumlah petani binaannya. Mulai dari penyempitan lahan pertanian hingga persoalan ketersediaan air.

Ia pun mengingatkan dampak pembangunan yang dilakukan secara masif terhadap lingkungan.

"Pembangunan yang masif akan berpengaruh kepada ketersediaan suplai air dan alih fungsi guna lahan," jelasnya.

Puluhan warga yang tergabung dalam kelompok DX atau Dinoyo X berjalan di belakang figur babi hutan sambil memikul hasil panen. Mereka juga membawa sebuah gunungan berbentuk naga. (Foto: istimewa)

Puluhan warga yang tergabung dalam kelompok DX atau Dinoyo X berjalan di belakang figur babi hutan sambil memikul hasil panen. Mereka juga membawa sebuah gunungan berbentuk naga. (Foto: istimewa)

Adi juga menyoroti upaya meningkatkan ketahanan pangan yang kini banyak diarahkan pada urban farming.

Menurutnya, ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan produksi pangan di wilayah perkotaan. Keberadaan petani dan ekonomi masyarakat desa juga perlu dijaga.

Ia berharap masyarakat kota ikut membantu petani dengan membeli hasil panen menggunakan harga yang layak. Dengan cara itu, biaya produksi petani dapat tertutupi dan mereka tetap memperoleh keuntungan dari hasil pertanian.

"Ketahanan pangan akan tercapai jika masyarakat kota melindungi perekonomian masyarakat desa dan masyarakat desa bisa tersejahterakan dengan hasil panen mereka," tuturnya.

Adi juga mengingatkan agar pembangunan tidak dilakukan secara ekspansif tanpa memperhatikan keberadaan lahan pertanian dan sumber air.

"Jangan merusak desa dengan pembangunan yang ekspansif," tandasnya.

Menurutnya, masyarakat kota dan desa memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan pangan. "Masyarakat kota dan masyarakat desa harus bersinergi," katanya.

Melalui karnaval tersebut, warga juga menitipkan pesan kepada pemerintah agar keberadaan mata air mendapat perlindungan.
Adi berharap kebijakan pembangunan turut mempertimbangkan keberadaan sumber-sumber air yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat.

"Harapannya, kebijakan untuk melindungi mata air yang ada bisa dilindungi," ujarnya.

Baca Juga : Kekeringan Melanda Lima Kecamatan di Kabupaten Malang, Distribusi Air Bersih Terus Mengalir

Baginya, menjaga sumber air yang sudah ada menjadi langkah penting daripada menunggu persoalan muncul ketika kondisinya sudah sulit dipulihkan.

"Keinginan saya konservasi, mempertahankan yang sudah ada," kata Adi.

Adapun sosok babi hutan dalam ogoh-ogoh tersebut digambarkan muncul dari rumpun bambu. Figur itu sengaja dipilih sebagai simbol keserakahan manusia terhadap alam.

Adi menjelaskan babi hutan ditempatkan sebagai tokoh antagonis dalam cerita yang ingin disampaikan melalui ogoh-ogoh. "Babi hutan identik sebuah keserakahan, antagonis," tuturnya.

Ia kemudian mengaitkan simbol tersebut dengan ancaman terhadap sumber mata air. "Kalau mata air terganggu, peran antagonis muncul," lanjut Adi.

Pesan yang hendak disampaikan, kata Adi, keserakahan dalam mengeksploitasi lingkungan pada akhirnya dapat membawa dampak buruk bagi manusia sendiri. "Sosok babi hutan di ogoh-ogoh melambangkan keserakahan dan keserakahan akan berbuah sebuah bencana," ujarnya.

Menariknya, ogoh-ogoh tersebut tidak seluruhnya dibuat menggunakan bahan baru. Warga memanfaatkan sejumlah barang bekas untuk menghasilkan karya tersebut. Bagian rangka menggunakan bambu. Sementara bagian penutup dibuat dari koran. Detail bentuk diperkuat menggunakan clay.

Untuk bagian badan, warga memanfaatkan keranjang sayur bekas. Material tersebut digunakan untuk mempertegas bentuk anatomi ogoh-ogoh.

Pengerjaan dilakukan sekitar dua pekan. Warga juga melakukan rekondisi terhadap konsep ogoh-ogoh yang telah dibuat sejak 2024.

Pemanfaatan barang bekas tidak berhenti pada tubuh ogoh-ogoh. Aksesori yang digunakan juga dibuat dari material yang mudah ditemukan di sekitar.

Kalung yang dikenakan figur dibuat dari botol bekas Yakult yang dirangkai. Sementara liontin berbentuk tengkorak dibuat dari kertas koran yang dibentuk lalu diberi tambahan clay.

Kreativitas warga tersebut sekaligus memperkuat pesan bahwa kampanye lingkungan dapat disampaikan melalui berbagai cara, termasuk memanfaatkan barang yang sudah tidak terpakai.

Tak hanya ogoh-ogoh, barisan warga juga membawa hasil bumi dalam karnaval. Puluhan warga yang tergabung dalam kelompok DX atau Dinoyo X berjalan di belakang figur babi hutan sambil memikul hasil panen. Mereka juga membawa sebuah gunungan berbentuk naga.

Properti pikulan dibuat sebagai representasi kehidupan petani. Hasil bumi yang dibawa antara lain padi dan jagung. Padi diperoleh dari petani di Suko, Merjosari. Sedangkan jagung berasal dari petani binaan Adi di kawasan Tegalweru.

Gunungan naga yang dibawa dalam rombongan juga memiliki pesan tersendiri. Warga ingin menggambarkan bahwa sumber air yang terjaga akan berpengaruh terhadap hasil pertanian dan kesejahteraan masyarakat.

Dengan kata lain, menjaga mata air tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga masa depan pangan.


Topik

Peristiwa karnaval agustusan babi hutan ogoh-ogoh babi hutan dinoyo karnaval dinoyo



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pacitan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya