JATIMTIMES - Di kaki Gunung Wilis, di antara jalur penghubung Madiun dan Ponorogo, pernah berdiri sebuah kerajaan yang kini nyaris terlupakan: Kerajaan Gelang-Gelang. Jejaknya terkubur di balik sawah, hutan jati, dan desa-desa kecil seperti Daha, Glonggong, Ngrawan, Gedong, hingga Pelem Gurih. Sejarah Gelang-Gelang tidak hanya menyisakan reruntuhan bata merah atau yoni terpendam, tetapi juga legenda tentang ratu cantik yang lahir dari seekor cacing, kisah pertempuran yang melibatkan prajurit Tambakyudo, dan ingatan lisan masyarakat yang masih menghormati situs-situs keramat peninggalannya.
Namun, di balik cerita rakyat yang mistis, Gelang-Gelang memainkan peran penting dalam dinamika politik Jawa abad ke-13 hingga ke-15. Dari sinilah muncul tokoh-tokoh seperti Jayakatwang, penguasa Kediri yang menjatuhkan Singasari pada 1292, hingga para adipati yang menjadi penghubung antara Majapahit dengan daerah-daerah perbatasan barat. Kerajaan ini, meski tenggelam dalam kabut sejarah, merupakan mata rantai yang menghubungkan masa keemasan Kediri dengan transisi menuju Majapahit.
Baca Juga : Komisi A DPRD Magetan Angkat Bicara Terkait Polemik Pengisian Perangkat Desa
Artikel ini menelusuri jejak Gelang-Gelang dari sudut pandang historiografi kritis, dengan menggabungkan temuan arkeologis, catatan kolonial abad ke-19, babad Jawa, hingga tradisi lisan setempat.

Situs dan Jejak Arkeologis
Keterangan tertua mengenai Keraton Gelang-Gelang ditemukan dalam peta kuno yang diterbitkan oleh J.K.J. de Jonge dalam karyanya Opkomst (1862–1909). Dalam peta itu ditunjukkan adanya sebuah bekas kerajaan yang kini sepi di kaki Gunung Wilis. Ketika arkeolog N.W. Hoepermans berkunjung pada 1866, ia tidak lagi mendapati sisa-sisa kayu yang digambarkan De Jonge, melainkan hamparan batu merah dan fondasi kuno. Tiga dekade kemudian, pada 1905–1906, J. Knebel dari Oudheidkundige Commissie bahkan hanya menemukan ingatan samar warga desa mengenai keraton tersebut.
Benteng Gelang konon berbentuk bujur sangkar dengan titik timur berada di jalur Madiun menuju Ponorogo. Area yang dahulu menjadi pusat benteng kini telah berubah menjadi desa-desa, yaitu Ngrawan, Gedong, Pelem Gurih, dan Glonggong. Nama terakhir menyimpan memori istana karena wilayah tingginya masih disebut Daton, kependekan dari kedaton.
Di sekitar kawasan ini pernah ditemukan sejumlah benda arkeologis, antara lain sebuah arca Durga bertarikh 1338 Saka atau 1414 Masehi, sebuah yoni yang kini berada di masjid Dusun Ngrawan Dolopo, serta batu bertulis angka tahun 1320 Saka atau 1398 Masehi. Selain itu terdapat pula makam keramat di kompleks Gedong yang berisi tokoh Setrowijoyo dan Setrowirudo, yang menurut tradisi disebut sebagai sepupu Sunan Kalijaga. Sayangnya, sebagian besar temuan tersebut telah hilang karena dibawa ke kota atau dipakai ulang untuk pembangunan Pabrik Gula Pagotan dan pesanggrahan sumber air panas Ngumbul. Inilah nasib banyak situs kuno di Jawa, terserap ke dalam pembangunan kolonial maupun modern, sementara memorinya hanya bertahan dalam cerita lisan.

Legenda Ratu Gelang
Tradisi tutur masyarakat Daha dan Glonggong menyebut penguasa Gelang sebagai seorang perempuan sakti bernama Ratu Gelang. Kisahnya sarat dengan simbol spiritual dan dilema etika.
Menurut cerita, Ratu Gelang awalnya adalah seekor cacing yang ditolong oleh Sunan Kalijaga. Sebagai balas budi, ia menjelma menjadi manusia dan berjanji akan menikahi putra tertua yang diutus Sunan. Namun, ketika dua pangeran sepupu Sunan Kalijaga datang, yakni Setrowijoyo dan Setrowirudo, Ratu Gelang justru jatuh hati kepada yang lebih muda.
Konflik antara janji dan cinta inilah yang melahirkan tragedi. Setrowijoyo, merasa dikhianati, memilih bunuh diri. Setrowirudo yang putus asa menyusul saudaranya. Sang prajurit Tambakyudo pun menantang Ratu Gelang, namun gugur dalam pertempuran.
Versi lain menyebutkan bahwa Ratu Gelang bersama saudari-saudaranya ditakdirkan menikah dengan dua pangeran, namun ketidaksesuaian cinta mengakibatkan kutukan: keraton kembali menjadi hutan, dan Ratu Gelang kembali ke wujud cacing.
Di balik kisah ini, terselip alegori Jawa tentang bahaya hasrat dan pelanggaran janji, serta legitimasi spiritual Sunan Kalijaga terhadap wilayah Gelang. Narasi tersebut menjadi jembatan Islamisasi: mengubah kerajaan Hindu-Jawa lama menjadi bagian dari kosmologi Islam.

Jayakatwang dan Akar Gelang-Gelang
Sejarah tertulis mengaitkan Gelang-Gelang dengan sosok penting bernama Jayakatwang, raja muda Kediri yang kemudian naik takhta pada tahun 1292. Kitab Pararaton menyebut bahwa Jayakatwang berasal dari Gelanggelang, sebuah wilayah yang terletak di kaki Gunung Wilis, di sekitar Daha dan Glonggong. Ia bukan hanya sekadar bangsawan bawahan, melainkan tokoh yang memiliki basis kekuasaan sendiri di wilayah barat Kediri. Dari sanalah ia kemudian mengangkat senjata melawan Singasari, menumbangkan Kertanegara pada tahun 1292, dan dalam waktu singkat menguasai Jawa.
Apabila benar Gelang merupakan tanah asal Jayakatwang, maka kerajaan ini tidak dapat dipandang hanya sebagai satelit Kediri. Ia adalah sebuah kekuatan politik yang cukup besar untuk menandingi Singasari. Fondasi keraton di Daha dan Glonggong, sebagaimana terekam dalam peta kuno yang diterbitkan J.K.J. de Jonge pada paruh kedua abad ke-19, serta kesaksian Hoepermans pada tahun 1866 yang menemukan hamparan batu merah dan fondasi tua di kawasan itu, mendukung dugaan bahwa Gelang pernah menjadi pusat politik yang penting. Sayangnya, reruntuhan keraton itu kemudian dibongkar untuk pembangunan Pabrik Gula Pagotan dan pesanggrahan di sumber air panas Ngumbul, sehingga kini jejaknya sulit dikenali kecuali melalui ingatan lisan penduduk.
Kekuasaan Jayakatwang berlangsung sangat singkat. Pada tahun 1293, hanya setahun setelah ia naik takhta, kedudukannya runtuh akibat serangan pasukan gabungan Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang kemudian mendirikan Majapahit, bersama tentara Mongol yang baru saja tiba di Jawa. Meski demikian, tindakan Jayakatwang telah mengguncang tatanan politik Jawa, dan peran Gelang sebagai basis perlawanan tidak dapat diabaikan. Catatan Tiongkok bahkan menyebut adanya seorang penguasa bernama Raja Kalang di Daha. Kemungkinan besar yang dimaksud dengan Kalang adalah Gelang, sedangkan Daha merujuk pada Kediri. Catatan tersebut menunjukkan bahwa Gelang cukup dikenal di luar Jawa hingga ke istana Tiongkok, meskipun kemudian namanya tenggelam dalam arus besar sejarah Majapahit.
Perdebatan di kalangan ahli sejarah kolonial memperlihatkan bahwa posisi Gelang tidak sesederhana yang tampak. Brandes berpendapat bahwa keraton di Daha dan Glonggong kemungkinan besar merupakan pusat Kerajaan Kediri, sedangkan Krom berpendapat Kediri selalu memiliki pusat di lokasi lamanya. Poerbatjaraka kemudian membuka kemungkinan bahwa Jayakatwang, berbeda dengan pendahulunya, pernah bermukim di Gelang yang berada dalam wilayah Madiun. Sementara itu, rimbawan Altona mengemukakan teori bahwa Gelang merupakan kerajaan merdeka dengan batas-batas teritorial yang jelas, membentang dari Gunung Pandan dan Dusun Ketupu hingga Gunung Dorowati di kawasan Wilis.
Dengan demikian, Jayakatwang dan Gelang-Gelang tidak dapat dipisahkan. Gelang bukan hanya tanah kelahiran seorang pemberontak besar, melainkan sebuah pusat kekuasaan yang menjadi alternatif bagi Kediri. Dari Gelanglah lahir upaya menantang hegemoni Singasari, dan dari Gelang pula muncul sebuah memori politik yang terus hidup dalam tradisi lisan masyarakat lereng Wilis. Meskipun kekuasaan Jayakatwang runtuh dengan cepat, keberadaannya menunjukkan bahwa Gelang pernah berdiri sebagai kerajaan yang diakui, baik dalam sumber Jawa, catatan Tiongkok, maupun ingatan arkeologis yang tersisa di tanah Madiun.

Gelang di Bawah Majapahit
Pada abad ke-15, nama Gelang kembali hadir dalam berbagai tradisi di Ponorogo dan Kediri. Dalam cerita rakyat setempat disebutkan bahwa Gelang diperintah oleh Prabu Brakumoro atau kadang disebut juga Prabu Wijoyo, yang diyakini sebagai putra Prabu Brawijaya II atau Bhre Tumapel yang bertakhta antara tahun 1447 hingga 1451. Setelah masa Brakumoro, kekuasaan Gelang diteruskan oleh putranya, Pangeran Demang Irawan, lalu berpindah ke generasi berikutnya yang dikenal sebagai Raden Demang. Sosok Raden Demang ini erat kaitannya dengan tokoh Batoro Katong, sang pendiri Ponorogo. Dalam tradisi lokal, Raden Demang merasa terancam oleh kehadiran Katong yang keras dan penuh pengaruh, sehingga ia memilih melarikan diri ke Kediri. Di Kediri ia diyakini wafat dan dimakamkan di Ngadiluwih, sebuah lokasi yang hingga kini masih dihormati oleh masyarakat setempat.
Cerita silsilah lain memperlihatkan versi yang berbeda. Dalam catatan keluarga bangsawan Jawa disebutkan bahwa putri Brawijaya V yang bernama Dewi Manik menikah dengan Aryo Sumangsang, seorang adipati di Gegelang. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putra yang kemudian memakai gelar Pangeran Demang. Tokoh ini kemudian memeluk Islam dan berganti nama menjadi Kiai Ageng Ngabdul Mursat, sebuah nama yang menandai peralihan dari tradisi Hindu-Buddha Majapahit menuju Islamisasi yang mulai kuat di pesisir Jawa pada abad ke-15.
Fragmen-fragmen silsilah tersebut tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan temuan arkeologis dan catatan kolonial mengenai keraton lama di kawasan Daha dan Glonggong, di kaki Gunung Wilis. Dalam peta tua yang diterbitkan oleh J.K.J. de Jonge pada paruh kedua abad ke-19, kawasan ini digambarkan sebagai bekas kerajaan yang sunyi di lereng gunung. Pada Maret 1866, arkeolog N.W. Hoepermans menuliskan bahwa ia menemukan hamparan batu bata merah dalam jumlah besar serta sisa fondasi tua, meski bangunan kayunya sudah lenyap. Ekspedisi J. Knebel pada 1905 dan 1906 bahkan mencatat bahwa jejak keraton sudah hampir hilang, hanya bertahan dalam ingatan lisan penduduk desa yang masih mengingat adanya benteng bujur sangkar di timur jalan Madiun menuju Ponorogo.
Baca Juga : Benarkah Nilai TKA Jadi Syarat Wajib Siswa Eligible SNBP 2026?
Dari kawasan ini pula ditemukan sejumlah peninggalan penting, antara lain sebuah arca Durga bertarikh 1338 Saka atau 1414 Masehi, sebuah yoni yang tersimpan di masjid Dusun Ngrawan Dolopo, serta batu bertulis angka tahun 1320 Saka atau 1398 Masehi. Di kompleks makam Gedong bahkan ditemukan pusara yang sangat disakralkan, diyakini berisi jenazah Setrowijoyo dan Setrowirudo, dua sepupu Sunan Kalijaga yang menurut kisah lisan pernah tewas karena persoalan cinta dengan Ratu Gelang. Cerita ini berpadu dengan kisah mistis tentang Ratu Gelang yang dipercaya pernah menjelma dari seekor cacing menjadi perempuan cantik, lalu jatuh hati pada putra muda yang seharusnya tidak menjadi pasangannya.
Jika dikaitkan dengan tradisi abad ke-15, maka jelas bahwa Gelang menjadi arena pertemuan antara dua arus besar sejarah Jawa. Di satu sisi ia masih memelihara tradisi Hindu-Buddha Majapahit melalui garis keturunan Brawijaya dan kisah-kisah Panji yang beredar luas. Di sisi lain, ia juga menjadi pintu masuk Islamisasi, sebagaimana tampak pada sosok Pangeran Demang yang berubah menjadi Kiai Ageng Ngabdul Mursat. Para adipati Gelang dengan demikian merupakan generasi peralihan, penghubung antara warisan Majapahit dengan kerajaan-kerajaan Islam awal di pesisir utara Jawa.
Dengan memadukan tradisi lisan, silsilah bangsawan, catatan kolonial, dan temuan arkeologis, kita dapat melihat bahwa Gelang tidak hanya sekadar nama dalam legenda, tetapi sebuah entitas politik dan budaya yang benar-benar memainkan peran pada abad ke-15. Gelang adalah ruang transisi, di mana benturan dan percampuran Hindu-Jawa dengan Islam berlangsung, meninggalkan jejak yang masih dikenang dalam makam, toponimi, dan cerita rakyat di lereng Gunung Wilis hingga hari ini.

Situs-Situs Keramat di Wilayah Gelang
Selain bekas benteng dan kedaton, kawasan Dolopo, Gemarang, dan Saradan juga menyimpan banyak situs keramat yang diyakini berkaitan dengan Gelang. Di Dolopo terdapat Makam Gedong yang dipercaya sebagai peristirahatan terakhir dua sepupu Sunan Kalijaga, dan hingga abad ke-20 area ini begitu disakralkan sehingga para pegawai kolonial pun enggan mendekat. Di Nampu dan Sebayi ditemukan arca Ganesha serta patung raksasa, sementara lingga dan yoni tersebar di Ketupu, Selo Haji, hingga Puser, sebuah hutan sunyi di perbatasan Widas. Ada pula Srampangmojo yang disebut sebagai kuburan orang-orang yang tewas dalam konflik perbatasan.
Menurut rimbawan Altona pada 1927, benteng-benteng kecil di wilayah ini dibangun sebagai bagian dari sistem pertahanan antara Daha dan Gelang, dan jejaknya masih dapat dikenali melalui toponimi maupun batu-batu penanda batas.

Dari Pemberontakan ke Kutukan: Gelang dalam Memori Jawa
Mengapa Gelang begitu kuat dalam ingatan masyarakat, meski jejak fisiknya hampir hilang? Jawabannya terletak pada tiga hal: ideologi, spiritualitas, dan dendam sejarah.
Secara ideologis, Gelang merupakan simbol perlawanan lokal terhadap pusat kekuasaan. Jayakatwang yang berasal dari Gelang pernah menjatuhkan Singasari, sebuah tindakan spektakuler yang dikenang sebagai puncak pemberontakan daerah.
Secara spiritual, legenda Ratu Gelang menjadi medium Islamisasi. Dengan menghadirkan Sunan Kalijaga sebagai tokoh yang menaklukkan sekaligus membimbing Ratu Gelang, masyarakat menerima narasi bahwa wilayah ini telah tersucikan oleh wali. Situs-situs keramat yang masih dihormati hingga kini memperkuat dimensi spiritual tersebut.
Dimensi ketiga adalah dendam sejarah. Kekalahan Jayakatwang, bunuh diri para pangeran, gugurnya Tambakyudo, dan kutukan Ratu Gelang merupakan tragedi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ingatan kolektif itu membentuk identitas lokal Dolopo, Ponorogo, dan Madiun sebagai wilayah yang pernah berhadapan dengan kekuasaan besar Jawa.

Catatan Akhir: Membaca Ulang Gelang
Sejarawan kolonial seperti Brandes dan Krom berbeda pendapat mengenai status Gelang. Brandes beranggapan bahwa keraton di Daha dan Glonggong mungkin merupakan pusat Kerajaan Kediri, sedangkan Krom bersikukuh Kediri tetap berada di tempat lamanya. Poerbatjaraka lebih kompromis dengan menyebut bahwa Jayakatwang kemungkinan tinggal di Gelang yang kini termasuk wilayah Madiun.
Bagi kita hari ini, perdebatan itu menunjukkan keterbatasan sumber. Arkeologi di Dolopo dan Glonggong memang mengindikasikan adanya pusat kerajaan, tetapi sulit menentukan apakah itu pusat Kediri, satelit Majapahit, atau ibu kota Gelang sendiri.
Dari perspektif historiografi kritis, Gelang dapat dibaca sebagai ruang liminal, yaitu persimpangan antara pusat dan daerah, antara Hindu dan Islam, serta antara kekuasaan resmi dan perlawanan lokal. Gelang bukan sekadar kerajaan kecil, melainkan simbol ambiguitas Jawa abad pertengahan.
Penutup: Kedaton yang Hilang, Memori yang Bertahan
Kini, Gelang hanya tersisa dalam nama desa, reruntuhan bata yang nyaris hilang, dan cerita lisan para sesepuh. Namun, memori tentangnya tetap hidup.
Di satu sisi, ia dikenang sebagai kerajaan kuat yang melahirkan Jayakatwang. Di sisi lain, ia hadir dalam legenda Ratu Gelang yang cantik namun tragis. Antara fakta sejarah dan mitos, Gelang membentuk identitas masyarakat lereng Wilis.
Kehancuran Gelang mengingatkan kita pada rapuhnya kekuasaan. Sebesar apa pun keraton berdiri, ia bisa lenyap ditelan waktu. Namun, melalui cerita, silsilah, dan situs keramat, Gelang tetap menjadi bagian dari kosmologi Jawa, sebuah kedaton yang hilang tetapi tidak pernah benar-benar lenyap.
