Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Kurikulum OBE UIN Maliki Malang Tetap Berpijak pada Nilai Keislaman dan Peradaban

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana

12 - May - 2026, 18:21

Placeholder
Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Maliki Malang, Drs. Basri, Ph.D (ist)

JATIMTIMES - Perubahan kebutuhan dunia kerja global yang bergerak cepat mulai memaksa perguruan tinggi meninjau ulang arah pengembangan kurikulumnya. Dominasi baru bidang Artificial Intelligence (AI), data science, computer engineering, hingga school of business membuat banyak kampus berlomba menyesuaikan program pendidikan dengan kebutuhan industri. Namun di tengah arus tersebut, muncul kekhawatiran bahwa perguruan tinggi justru semakin menjauh dari fungsi dasarnya sebagai ruang pengembangan ilmu pengetahuan dan penjaga peradaban.

Persoalan itu menjadi salah satu sorotan dalam Workshop Kurikulum Outcome Based Education (OBE) dan Penyusunan Mata Kuliah Keuniversitasan yang berlangsung di Aula Rektorat lantai 5 Kampus I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Selasa 12 Mei 2026. Forum tersebut membahas arah pendidikan tinggi Islam di tengah perubahan global yang tidak hanya memengaruhi pasar kerja, tetapi juga mengubah orientasi dunia akademik.

Baca Juga : Kronologi Lengkap LCC MPR di Kalbar Viral, Jawaban Sama Dinilai Berbeda hingga Juri Dinonaktifkan

Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Maliki Malang, Drs. Basri, Ph.D., menilai perguruan tinggi modern mulai menghadapi tantangan serius ketika ukuran keberhasilan kampus semakin dipersempit pada aspek popularitas program studi dan keuntungan ekonomi. Akibatnya, sejumlah bidang ilmu yang dianggap tidak memiliki prospek pasar besar perlahan tersisih, meski sebenarnya memiliki kontribusi penting dalam membangun cara berpikir masyarakat dan menjaga nilai peradaban.

Mengutip pemikiran William Kirby dalam buku Empire of Ideas, Basri menyebut universitas seharusnya tidak hanya mengikuti tren industri semata. Menurutnya, terdapat disiplin ilmu yang harus tetap dipertahankan karena berperan memperdalam pemahaman manusia terhadap sejarah, budaya, etika, dan kehidupan sosial.

“Universitas bukan hanya tempat mencetak tenaga kerja, tetapi juga ruang menjaga pengetahuan, melahirkan gagasan, membangun identitas bangsa, hingga menghasilkan kemajuan ilmiah dan budaya,” jelasnya.

Ia menilai kekuatan perguruan tinggi justru terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan, antara ilmu humaniora dan sains, serta antara identitas lokal dengan daya saing global. Dalam forum itu, Basri mencontohkan sejumlah universitas dunia seperti , , dan yang tetap mempertahankan disiplin humaniora meskipun jumlah peminatnya tidak besar.

Menurutnya, kebesaran universitas tidak diukur dari banyaknya mahasiswa semata, melainkan dari kemampuan menjaga keluasan dan kedalaman pengetahuan yang dimiliki.

Perubahan orientasi pendidikan tinggi dinilai semakin terlihat setelah perkembangan teknologi digital dan perubahan global pascapandemi. Basri menyebut bidang-bidang yang sebelumnya kurang mendapat perhatian kini justru menjadi strategis, mulai dari studi lingkungan, etika kecerdasan buatan, digital humanities, hingga kesehatan publik.

“Dulu ilmu kedokteran menjadi primadona sejak 1970 hingga awal 2000-an. Sekarang muncul dominasi baru seperti AI, data science, computer engineering, hingga school of business,” ujarnya.

Fenomena tersebut, menurutnya, memperlihatkan bahwa kebutuhan pasar kerja dapat berubah dalam waktu singkat. Karena itu, perguruan tinggi dinilai tidak cukup hanya membentuk lulusan yang siap kerja, tetapi juga harus menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis, etika, dan fondasi moral kuat agar mampu menghadapi perubahan jangka panjang.

Baca Juga : Cegah Kebocoran PAD dari Retribusi, Dishub Segera Terapkan Kontrak Resmi dengan Jukir

Dalam konteks perguruan tinggi Islam, tantangan itu semakin kompleks karena kampus harus menjaga integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum. Basri mengulas bahwa sejak awal berdirinya, IAIN hadir sebagai upaya menjembatani dikotomi antara pendidikan pesantren dan lembaga sekuler melalui pendekatan pendidikan modern. Transformasi menjadi UIN kemudian diarahkan untuk mempertemukan sains dan studi keislaman dalam satu sistem pendidikan.

Menurutnya, identitas tersebut tidak boleh hilang di tengah tuntutan globalisasi pendidikan tinggi. Mata kuliah seperti Fiqih, Al Qur’an Hadis, Sejarah Peradaban Islam, hingga Bahasa Arab akademik disebut tetap memiliki posisi penting karena menjadi bagian dari karakter perguruan tinggi Islam. Keberadaan lebih dari 120 dosen Bahasa Arab di UIN Malang juga dipandang sebagai kekuatan akademik yang mencerminkan arah pengembangan kampus.

Selain persoalan akademik, forum itu turut menyoroti penguatan sistem ma’had yang dinilai mulai menghadapi tantangan baru di tengah perubahan gaya hidup mahasiswa dan budaya digital. Basri menilai pembinaan spiritual tidak cukup hanya bersifat administratif, tetapi perlu diwujudkan dalam pembiasaan ibadah dan penguatan kehidupan religius di lingkungan kampus.

“Ma’had harus lebih fokus pada pembinaan spiritual. Praktik membaca Al-Qur’an dan pengawasan ibadah berjamaah perlu diperkuat,” tegasnya.

Ia juga mengusulkan penyesuaian jadwal Program Khusus Pengembangan Bahasa Arab (PKPBA) dengan model kelas pagi mulai pukul 06.30 hingga 08.00 serta tambahan sesi sore selama 90 menit agar proses pembelajaran lebih efektif.


Topik

Pendidikan uin maliki malang workshop kurikulum obe warek bidang akademik uin maliki malang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Pacitan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Dede Nana

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan