JATIMTIMES – Gelombang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diiringi lonjakan harga suku cadang memukul telak sektor transportasi online di Kota Batu hingga memicu penurunan pendapatan driver. Kondisi finansial yang kian terjepit ini diperparah oleh skema tarif dan fitur murah dari pihak aplikator yang dinilai memberatkan para pejuang aspal di lapangan.
Ketua Aliansi Ojol Bersatu (AOB) Kota Batu, Arif Kurniawan, mengungkapkan bahwa dampak kenaikan BBM telah merembet ke segala lini operasional, termasuk melonjaknya biaya perawatan berkala seperti penggantian oli mesin yang kini menembus Rp70 ribu hingga Rp75 ribu dari yang semula hanya Rp60 ribuan.
Baca Juga : DPRD Desak Pemkot Batu Segera Tindak Lanjuti Catatan Kritis BPK RI: Jangan Terlena Predikat Opini WTP
"Semua kena efeknya, mulai dari suku cadang (sparepart) sampai oli, semua naik. Semenjak kenaikan ini, sekitar 80 persen teman-teman driver kembali lagi mengonsumsi Pertalite," beber Arif Kurniawan, Sabtu (20/6/2026).
Padahal sebelum ada lonjakan harga, sekitar 50 persen driver ojol di Kota Batu mengandalkan BBM nonsubsidi jenis Pertamax demi menjaga performa mesin kendaraan mereka. Imbas migrasi ke bensin beroktan lebih rendah ini, para driver kini dihantui risiko penurunan performa mesin jangka panjang di tengah kewajiban servis rutin maksimal tiga minggu sekali.
Arif memberikan gambaran riil, dalam sehari seorang driver umumnya mampu mendapatkan 15 hingga 20 tarikan pesanan dengan komisi rata-rata Rp6,5 ribu per penumpang, atau setara dengan pendapatan kotor sebesar Rp130 ribu.
Namun, angka pendapatan kotor tersebut harus langsung tergerus biaya pembelian BBM yang mencapai Rp70 ribu untuk pengisian penuh (full tank) per harinya. Alhasil, uang yang dibawa pulang ke rumah untuk keperluan makan dan keluarga hanya tersisa berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 saja per hari.
"Kira-kira pendapatan bersih driver turun sampai 30 persen," ungkapnya.
Kondisi sisa pendapatan yang minim tersebut kian diperparah oleh belum berjalannya regulasi potongan komisi yang ideal dari pihak perusahaan aplikasi.
"Kita sudah dipotong komisi 20 persen, lalu harus terbebani lagi untuk fitur hemat itu. Jadi kesannya ada potongan ganda yang harus ditanggung driver," keluh Arif.
Baca Juga : Aliansi Banyuwangi Menggugat Tuntut Pemerintah Evaluasi Program MBG dan Koperasi Merah Putih
Sebagai bentuk pertahanan terakhir untuk menyiasati biaya operasional, para driver ojol di Kota Batu kini mulai bersikap pragmatis dan sangat selektif dalam menyaring orderan masuk. Pesanan dengan jarak penjemputan di atas dua kilometer kini kerap dibatalkan secara sepihak karena kalkulasi tarif yang dianggap merugikan, diikuti dengan perubahan strategi kerja.
"Mayoritas driver terpaksa narik lebih pagi hingga larut malam demi mengejar pasar anak sekolah dan pekerja," imbuh dia.
